Rainbirds, Sebuah Penelusuran Jejak Kematian yang Hening

by - Minggu, Oktober 07, 2018



Rainbirds
Clarissa Goenawan
Gramedia Pustaka Utama, 400 hal
Gramedia Gancit

Sinopsis:

Kematian sang kakak yang terlalu tiba-tiba seketika memaksa Ren Ishida untuk pergi meninggalkan kota hiruk pikuk Tokyo ke Akakawa, kota kecil tempat terakhir Keiko menetap sebelum akhirnya terbunuh dengan mengenaskan.

Guna menyelidiki sebab dan musabab terjadinya pembunuhan sang kakak tercinta itulah, Ren akhirnya memutuskan untuk tinggal lebih lama di Akakawa. Di kota ini ia berkenalan dengan berbagai macam tipe manusia yang beraneka sifat. Mulai dari politisi yang menyewakan tempat tinggal, teman-teman guru kursus yang unik dan apa adanya hingga muridnya yang agresif dan menyukainya.

Penyelidikan yang dilakukan Ren memang seakan membentur angin  namun ada bagian yang sejatinya telah memberi pelajaran baru yang sangat berguna bagi Ren pribadi dan sangat memberi makna, yakni waktu berharga

Ulasan:

Bila ingin merasakan sebuah kisah yang muram, sendu, tanpa emosi berlebihan, dengan kadar keheningan yang mengelus pikiran dan jiwa mungkin cerita yang berjudul Rainbirds ini dapat mewakilinya.

Sebenarnya sebuah novel meskipun dengan judul yang singkat pasti akan memunculkan daya tarik entah apa daya tarik itu terlontar. Novel dengan judul Rainbirds ini telah membuat saya bertanya-tanya, apa yang menjadi keistimewaan  dan daya tarik darinya?  Saya tak mengira kisah yang diutarakan begitu sedih, alih-alih menguak misteri yang terbungkus rapat di dalamnya,  justru yang diuraikan adalah kondisi emosi pihak si adik yakni Ren yang tersuruk-suruk dan putus asa karena harus mencari sendiri jawaban yang menggantung ketimbang sosok sang Kakak yang hanya  tinggal nama saja.

Yang menarik adalah meskipun jalan ceritanya sendu, namun tertanam di dalamnya kekuatan untuk optimis, bangkit dari kesedihan dan berpegang pada kenyataan yang akan dijalani berikutnya. Kemampuan pengarang untuk menceritakan sosok-sosok yang rindu akan kebersamaan kakak beradik saat msih kecil hingga remaja adalah kelebihan yang memang pantas diganjar oleh beberapa penghargaan.

Keterlambatan dalam mengenal sosok anggota keluarga yakni kakak dan penyesalan yang dalam akibat sedikitnya waktu untuk memahami apalagi berbincang adalah poin yang sangat menohok perasaan saat membaca novel ini. Kilasan-kilasan masa lalu di mana Ren kecil tak ingin makan di luar lalu Keiko akhirnya memasakkan sesuatu adalah momen yang menyentuh dan tak mungkin terulang kembali. Pengarang berhasil menghadirkaan kebersamaan  dengan halusnya tanpa menyadari bahwa  itu adalah kehidupan yang telah berlalu.

Dalam menelusuri jejak kematian, kita akan menyaksikan betapa waktu telah terbuang sia-sia karena tak mengenal dengan baik momen yang terjadi saat itu dan betapa merindunya kebersamaan masa lampau  meskipun saat itu sangat singkat.



Alur ceritanya sangat detail dengan lokasi dan waktu yang berjalan paralel. Dialog yang sederhana, kegiatan sehari-hari yang dilakukan selama menetap di rumah sang politisi, atau  berkendara bersama Honda adalah hal yang remeh dan biasa saja namun semua memberi makna tertentu. Selain tema yang kuat, daya tarik lainnya saat membaca Rainbird adalah pemilihan latarnya yang unik, Jepang. Pengarangnya sangat mengenali budaya Jepang  nampaknya seakan yang saya baca adalah novel buah karya orang Jepang dengan segala kebiasaan, restoran, losmen maupun tokoh dan nama khas orang Jepangnya. Sempurna.

Lepas dari pernak-pernik Jepangnya, membaca cerita ini membuat saya larut dalam renungan dan kesimpulan bahwa permasalahan seperti ini  sangat universal namun penanganannya belum tentu sama, Kompensasi kesedihan dan penyembuhan luka bagi sebagian orang yang dirundung kesedihan terutama yang dipilih oleh pengarang untuk mengakhiri semuanya adalah brilian.

Tak prnah menyangka akhir ceritanya demikian adanya.

You May Also Like

0 komentar