Gunung Ungaran, Kisah Terakhir Seorang Nh. Dini

by - Tuesday, March 26, 2019



Gunung Ungaran, Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya
Nh. Dini
Media Pressindo, 408 hal
Gramedia, Mal Malioboro


Sinopsis:

Memasuki usia senja, Nh. Dini ingin menyepi di Indonesia, tepatnya di wilayah kabupaten Semarang, Ungaran. Hari demi hari dijalani dengan segala permasalahan yang selalu saja datang dan pergi.

Meskipun telah menapak di sebuah rumah yang nyaman, namun kiprah Dini tak terkungkung. Beliau kerap menerima berbagai undangan untuk menghadiri acara-acara yang cukup menguras tenaga dan kesehatannya.

Untunglah ia selalu memiliki banyak sahabat, adik, kakak, dan anak spiritual yang selalu siap sedia memberikan dukungan baik moril atau materi yang membantu atau menemani kemana pun Nh. Dini bepergian baik di wilayah Indonesia atau ke luar negeri. Hubungannya dengan kedua anaknya pun cukup intens meskipun kadang tersirat beberapa kali disertai adanya culture shock antar generasi dan juga kesalahpemahaman, namun itu hanyalah kerikil kecil dalam perjalanan hidup.

Di usianya yang telah sepuh, Nh. Dini tetap menggapai prestasi dan selalu bersyukur atas segala pencapaiannya.


Ulasan:


Membaca karya novel Nh. Dini selalu menyejukkan. Setiap kata atau kalimatnya merupakan pengejawantahan dari dirinya dalam menjalani suatu lakon hidup. Bagi saya pribadi novel Nh. Dini mencerminkan kejujuran dan apa adanya, tak ada yang ditutup-tutupi dan tak perlu malu serta lugas dalam bersikap.

Seorang penulis besar yang sangat dikagumi baik di dalam negeri maupun manca negara seyogyanya mendapatkan manfaat yang besar untuk hidup sejahtera di negeri ini. Namun membaca kisah Nh. Dini tersirat betapa nelangsanya dalam menjalani hari tuanya di sebuah rumah panti jompo di Semarang.

Meskipun tidak disebut kekurangan, namun ada beberapa hal yang membuat kita merasa miris mengetahui seorang pengarang hidup dalam ketidakpastian dan selalu harus bertanya dulu pada panitia pengundang acara, semisal 'Apakah ada uang sakunya?, apakah disediakan tiket?, apakah disediakan akomodasi', dan sebagainya saat ingin memberikan konfirmasi kedatangan suatu acara.

Terseok-seok

Novel ini bukanlah sebuah biografi namun saat membaca kalimat-kalimatnya kita akan merasa bahwa penulis sedang menceritakan kehidupan dirinya selaku pengarang yang agak terseok-seok dalam mencukupkan kebutuhannya. Bahkan hal yang sepele seperti memperbaiki talang rumah yang bocor saat turun hujan tak luput dari perhitungan keuangan yang tersedia.

Ditambah lagi dengan kenyataan akan kondisi yang hidup berjauhan dari kedua anaknya yang memilih menetap di luar negeri, makin menjadikan kesendirian itu begitu telak bagi dirinya. Tentunya ini suatu hambatan yang kian menambah sulitnya seorang Nh. Dini untuk menjadi agak berkecukupan dan merasa lengkap.

Di luar itu semua, sang penulis tetaplah sosok yang produktif dalam menulis. Meski sudah berusia lanjut dan sering mengalami gangguan kesehatan, beliau masih saja diundang sana-sini dan aktif dalam sebuah komunitas. Di novel ini beliau tak hanya menceritakan hal yang membahagiakan saja semisal saat menerima gelar Pengabdian Seumur Hidup dari Ubud Writers dan menyaksikan Padang -anak laki yang ia banggakan- menjadi pembicara, namun juga hal yang menyusahkan hatinya dan langsung menumpahkan kekesalan bila dirasanya ada yang tidak nyaman.

Bercatatan Kaki

Percikan semacam itulah yang menjadi bumbu dan menjadi daya tarik bagi pembacanya. Nh. Dini rupanya tahu bagaimana membuat novel yang awalnya terkesan biasa karena bercerita tentang kondisi sehari-hari menjadi kisah yang menarik karena di dalamnya tak hanya memuat keseharian tapi juga ketelatenan dan sikap mandiri.

Membaca Gunung Ungaran ini seakan menguak memori lama dan tahun-tahun sebelumnya saat beliau menulis novel. Setiap kisah yang diungkapkan tak lupa diberi catatan kaki tentang sumber novel terdahulu sehingga kita bisa mereka-reka rentang waktu saat kisah itu ada. Berkat catatan kaki, saya menjadi ingat kisah di dalamnya. Seperti saat Nh. Dini menceritakan seorang tokoh yang sangat akrab dan rupanya pernah muncul dalam novel sebelumnya yang berjudul Sebuah Lorong di Kotaku. Novel ini yang pertama kali saya baca dari Nh. Dini dan berkesan hingga sekarang.

Di balik kerentaannya, ia mampu menjalani hari dengan kuat berkat kemampuan jejaring sosialnya dengan orang-orang yang telah dirintisnya sejak lama mulai dari  supir taksi langganan, keponakan, hingga tukang-tukang bangunan yang setia memperbaiki rumahnya.



Semangat dan cerita yang dituturkan begitu kuat sehingga pecinta novel Nh. Dini begitu sedih mengetahui beliau telah tiada. Kepergiannya seakan mimpi. Tak ada lagi kisah tentang Paris atau perjalanan atau proses kreatif yang mewarnai hari-hari sang penulis. Bila tadinya kita selalu menanti-nanti novel terbaru darinya dan menerka tema dan judulnya, mungkin kali ini kita harus berhenti berharap karena novel ini adalah karya terakhir almarhum dan tak akan ada lagi kisah kedua anak bernama Padang dan Lintang.

You May Also Like

0 komentar