Menjelajahi Pameran buku Big Bad Wolf 2019

by - Saturday, March 02, 2019



Pagi yang mendung dan saya bersiap untuk mendatangi pameran buku Big Bad Wolf  2019 yang berlangsung pada 1-11 Maret 2019 nonstop. Sebenarnya keinginan untuk mengunjungi BBWI ini sudah lama sekali. Namun baru di tahun ini akhirnya kesampaian.

Di sini saya akan menceritakan serunya perjalanan menuju Big Bad Wolf karena disamping belum pernah menginjakkan kaki di ICE -lokasi berlangsungnya acara- saya juga sama sekali gak tahu wilayah BSD atau Serpong dan sekitarnya. Jadi ini semacam petualangan juga pada akhirnya.

Naik Kereta

Oke, sejujurnya saya gak punya petunjuk untuk menuju ke ICE. Tapi berkat Google, akhirnya saya bisa ke sana. Ada banyak cara untuk menuju ke sana, namun menurut saya itu tergantung dari jarak dan tempat tinggalnya. Bagi mereka yang berdomisili di wilayah Jakarta Selatan seperti saya, bisa mulai dengan menaiki kereta Commuter line jurusan Tanah Abang-Serpong dari Stasiun Kebayoran. Lalu turun di stasiun Rawa Buntu. Dari sini kita bisa order Grab atau Gojek, tapi berhubung saya takut tersesat, maka saya pilih naik taksi saja dahulu dengan pertimbangan agar waktunya tidak terbuang lama karena nantinya saya pasti akan mengelilingi pameran selama berjam-jam dan pasti akan lelah.

Naik taksi dari stasiun Rawa Buntu ke ICE BSD hanya berlangsung sekitar 15 menit saja. Tarifnya Rp 30.000. Kebetulan jalanan lancar entah karena bukan akhir pekan atau akibat suasana mendung mau hujan. Mungkin kalau agak siang dan rada macet durasi perjalanan bisa memakan waktu lebih lama. Saya tiba di ICE masih terhitung pagi, jam 09.30 dan kondisi baru saja turun hujan di sana.

Sembari menanti waktu buka pukul 10.00, saya berkeliling untuk melihat suasana di sekitar beranda ICE yang ternyata sangat luas dan besar. Oh ya, acara pameran ini disponsori oleh bank BCA jadi bagi pemegang kartu kredit BCA nantinya akan ada berbagai kemudahan dan keuntungan yang bisa didapat seperti Reward atau cashback. Terlihat antrean panjang mereka yang ingin mendapatkan reward ataupun cashback.

Area Pameran

Memasuki area pameran adalah pengalaman tersendiri bagi saya. Apalagi yang sekelas Big Bad Wolf ini. Begitu luas dengan berbagai ragam tema yang tersebar nyaris di seluruh area. Wilayah yang paling mencuri perhatian adalah buku anak-anak. Apa saja tersedia di sana dengan berbagai tipe buku. Mulai dari Pop Up book, Flip Art, sampai yang namanya Buku Ajaib.



Dinamakan buku Ajaib seperti itu karena untuk membacanya ada campur tangan Augmented Reality. Syaratnya unduh aplikasi dan arahkan ponsel ke buku itu maka yang terlihat tokohnya akan bergerak-gerak, berjalan atau menari. Mirip Snap Chat kalau menurut saya sih. Rata-rata harganya Rp 90.000. Cukup murah untuk ukuran buku impor dengan muatan teknologi digital yang canggih. Anak-anak pasti suka. Saya saja ikut terkesima melihat tampilannya.



Bagi pecinta buku, tempat pameran ini serasa surga layaknya karena apa saja ada. Semua genre dan tema tersedia di sana. Apa pun yang dicari baik musik, otobiografi, fiksi, criminal-thriller, romance, self-help, agama, buku masak dll tergelar di sana.



Beberapa merchandise pun ikut membuat mata ini tertarik untuk mendekatinya. Ada bantal-bantal lucu, boneka imut, tempat minum, tempelan kulkas atau lukisan art pop.



Suasana nyaman juga didukung oleh AC yang super dingin, jadi kalau ada yang gak tahan dingin, disarankan untuk membawa jaket.


Bahasa Inggris

Perlu diketahui bahwa buku yang dipamerkan dan dijual di Big Bad Wolf ini sebagian besar adalah buku impor alias berbahasa Inggris semua teksnya. Jadi jangan merasa berpikir kok buku yang berbahasa Indonesia tidak ada? Ya memang seperti itu misinya menjual buku impor dengan diskon lumayan. Tapi untuk kali ini, jangan sedih karena fiksi Indonesia ada di Big Bad Wolf. Diwakili oleh penerbit Mizan, berbagai tema buku dari mulai agama, sejarah, masakan, hingga anak-anak yang berbahasa Indonesia tersedia di sana. Harganya pun murah-murah.

 Untuk wilayah seluas ICE, memang harus disiapkan semacam wish list apa saja yang ingin dibeli kalau tidak ingin kaki pegal akibat mencari ke sana-kemari. Karena untuk mengitarinya dibutuhkan stamina yang cukup. Untuk waktu selama 3 jam pertama ternyata tak sadar saya baru menjelajah setengah dari ruangan pameran pada pukul 12 siang saat itu. Masih ada setengah lapangan lagi yang perlu saya jelajahi.



Setelah berkeliling ke sana kemari saya perlu beristirahat untuk mengganjal perut. Di sana tersedia Food Court dengan aneka jenis hidangan. Letaknya gak jauh dari area buku sehingga tak heran bau aroma nasi goreng kerap tercium sampai jauh pada saat kita sedang memilah buku.



Kemasan Baru

Kesan saya buku yang ditampilkan benar-benar kemasan baru, fresh from oven. Inilah yang membuat saya betah juga untuk melihat-lihat. Penyelenggaraan pameran ini menurut saya sudah lebih baik dibanding sebelumnya karena meskipun saya baru pertama kalinya ke sini, saya merasakan tim penyelenggara telah berbuat sangat maksimal dalam hal buku, fasilitas lain seperti ATM ( itu juga karena dukungan BCA) atau tata aturan antrean untuk membayar. Tidak terlihat pengunjung yang makan dan minum di tengah area dan suasananya bersih.



Sebagian besar yang datang saat itu kaum wanita beserta anak-anak. Jadi bisa dibilang ini seperti me time bersama. Entah kalau akhir pekan, mungkin yang datang bisa seluruh anggota keluarga. Kalau ingin leluasa menyimak dan menelisik isi buku yang kita taksir saran saya datanglah pada hari kerja. Dijamin puas karena pengunjung tidak terlalu banyak yang datang.

Jasa Titipan

Fenomena Jastip ini sangatlah menarik. Ada dua sisi yang muncul, merugikan dan menguntungkan. Kalau ada yang merasa tidak mampu datang akibat jarak yang jauh, bisa memanfaatkan jastip ini. Terkesan praktis dan terbantu sekali. Dari segi konsumen, menurut saya ini merugikan karena buku yang seharusnya bisa dimiliki ternyata sudah diborong oleh Jastip ini.

Saya menyaksikan sendiri orang-orang jastip yang dengan ringannya mengambil 5-6 buku anak dan tidak menyisakan satu pun untuk konsumen lain yang telah bersusah payah datang dan ingin memiliki buku itu juga.

Pulang

Setelah puas berkeliling, tiba saatnya untuk antre bayar. Pulangnya saya perlu menaiki taksi karena memang kaki sudah sangat pegal dan agar cepat sampai ke stasiun. Jarak tempuh dari ICE sampai stasiun Rawa Buntu membutuhkan waktu lebih lama sekitar 45 menit akibat lampu merah dan macet  juga karena harus berputar arah. Untunglah naik kereta Commuter Line menjadi hal yang sangat menyenangkan karena cepat dan tepat waktu.

You May Also Like

0 komentar