Origin : Petualangan Sia-Sia Robert Langdon

by - Tuesday, March 12, 2019





Origin
Dan Brown
Bentang Pustaka-Mizan, 511 hal
Pameran Buku IKAPI 2018



Sinopsis:

Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi?

Sewaktu Robert Langdon menghadiri acara pengungkapan penemuan ilmiah Edmond Kirsch, ia tak mengira dirinya akan menyaksikan tewasnya milarder sekaligus ilmuwan komputer itu tepat saat memaparkan kata pembukanya. Meskipun jasadnya telah terbujur di hadapannya, Langdon sempat mengambil ponsel sang ilmuwan itu dan berupaya membuka temuan yang digadang-gadang akan menggegerkan dunia dan akan disiarkan baik melalui saluran internet maupun tayangan televisi.

Dibantu oleh Ambra Vidal, kepala museum Guggenheim yang juga tunangan calon raja Spanyol, Langdon berusaha untuk memecahkan teka-teki rahasia yang akan dipaparkan secara langsung.

Melewati berbagai rintangan dan hambatan tak membuat Langdon merasa kesulitan karena ia selalu dibantu oleh komputer jenius Winston rakitan Edmond Kirsch dalam mencapai jalan menuju pengungkapan.

Setiap saat waktu terus berpacu karena selain menimbulkan keguncangan dengan terbunuhnya para tokoh agama, kabar yang muncul melalui  ConspiacyNet.com juga turut menambah kekacauan. Terlibatnya dugaan uskup kesayangan raja Spanyol, Valdespino dengan Pangeran Julian untuk berkonspirasi terhadap pembunuhan para tokoh agama ikut menimbulkan prasangka yang mendorong raja Spanyol bertindak dan mengakui suatu rahasia.

Sesungguhnya Langdon juga ingin tahu apa sebenarnya yang ingin diungkapkan oleh Edmond Kirsch berkaitan dengan dua pertanyaan besar yang didengung-dengungkan oleh Kirsch. Bersama Ambra, ia harus memecahkan kata sandi yang berjumlah 47 karakter demi terungkapnya penemuan yang membuat penasaran.

Pada akhirnya Langdon harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya telah terseret arus konspirasi yang sengaja atau tidak telah membuat dirinya ikut berkontribusi atas penemuan menggegerkan dunia.


Ulasan:

Setelah sekian lama menanti akhirnya saya bertemu lagi dengan Robert Langdon, sang profesor Harvard dan ahli simbol yang mampu memecahkan berbagai teka-teki. Selalu ada kegembiraan membaca buku yang serius ini karena memang sang tokoh akan selalu menemui berbagai petualangan yang menyangkut kehidupan, penyelamatan atau pemecahan simbol antar negara.

Dalam berbagai kasus selalu saja Langdon menemui masalah dan harus berkejaran dengan waktu guna memecahkan teka-teki yang biasanya berkaitan dengan pejabat, penguasa atau tokoh yang jahat. Ini tidak main-main, sang pengarang Dan Brown bahkan bisa memaksa Langdon untuk menyusup ke segenap relung-relung dalam museum Spanyol atau ke Sagrada Familia yang kabarnya tak semua orang diperbolehkan untuk masuk.

"Edmond Kirsch dibunuh agar hasil temuannya tidak tersiar ke publik. Dan siapa pun yang telah membungkamnya tidak akan berhenti berusaha sampai tujuannya terpenuhi" hal. 331
Kisah petualangan berbalut pembunuhan telah menjadi semacam trade-mark di hampir semua karya Dan Brown. Dalam berbagai hal sang pengarang kadang memberi sebuah penekanan tentang pencarian atau penelusuran yang dibungkus dengan thriller kejar-kejaran dalam memecahkan suatu masalah. Ini memang bukan hal yang baru karena novel-novel sebelumnya pun petualangannya nyaris serupa.

Teks Origin, Dan Brown


Yang berbeda hanya tokoh kedua yang mendampinginya dengan profesi yang berbeda-beda. Ada yang dokter, detektif, kurator, dan kali ini dalam Origin, pendampingnya adalah seorang kepala museum Guggenheim, Bilbao Spanyol yang cantik, Ambra Vidal. Satu lagi, tokoh kedua selalu berjenis kelamin wanita.

Membaca novel setebal 511 halaman tentu saja memerlukan energi karena meskipun hanya Langdon dan Ambra yang beraksi namun terasa sekali petualangannya berbobot dengan plot yang mencengangkan dan membuat saya merasa ikut terpacu.

Cerita di awal hingga ke pertengahan masih berkisar tentang pencarian kode dan pemecahan kata sandi, yang terasa agak membosankan terutama bila telah sampai di bagian tentang temuan Edmond yang mengupas asal mula kehidupan

Deskripsi tentang pemandangan, latar, dan lokasi yang didukung oleh riset yang mendalam sangat mengagumkan. Nama-nama seperti Casa Mila, Katedral Almudena atau Palacio Real di Madrid dikisahkan dengan begitu mempesona seakan kita ikut berada di sana. Terutama bagi saya pribadi yang baru mengetahui bangunan semacam Sagrada Familia.

Selain narasi yang menarik, karakter dari masing-masing tokoh menurut saya berimbang bahkan cenderung bersifat abu-abu. Ada yang saya kira akan bertindak anarki namun justru melempem, atau sebaliknya. Menurut saya karakter dari tokoh selain Langdon terlalu datar. Biasa saja. Tidak menukik dan bikin terperangah.

Dibandingkan dengan novel-novel sebelumnya, Origin kurang meletup dan terkesan monoton. Tidak adanya sub plot seperti misalnya pertikaian di dalam kerajaan Spanyol antara Raja dengan Pangeran Julian, atau drama romantisme antara Pangeran dengan calon istrinya tidak tergambarkan sama sekali dalam kisah ini. Pengarang nampak lebih sibuk untuk mencurahkan perhatian pada pemecahan kata sandi yang berjumlah 47 karakter guna mengungkap isi penemuan Kirsch.

Seakan Langdon harus berlari ke sana-kemari demi menemukan kunci, sementara seluruh tokoh lain seperti Ambra, Uskup Valdespino, maupun Monica Martin sang koordinator humas, hanya sebagai penonton yang tidak berkontribusi apa-apa.

Sebagai sebuah thriller,  kasus terbunuhnya Edmond Kirsch menjadi daya tarik pembaca untuk mengusut apa yang tengah terjadi. Apa yang menggelisahkan dibalik itu. Namun secara keseluruhan kisahnya kurang greget, kurang nendang. Seakan ada yang belum terwakili dan belum diceritakan dengan tuntas terutama sosok misterius yang membantu petualangan Langdon yang justru menjadi aktor paling pintar dari seluruhnya.

Penguasaan atas sains, sejarah, arsitektur, evolusi, museum dan seni benar-benar mencerahkan bagi pembaca. Dan inilah sesungguhnya yang membuat saya selalu suka membaca karya Dan Brown, terlepas dari seru atau tidaknya suatu kisah yang ditulisnya.

You May Also Like

0 komentar