After You: Babak Baru Hidup Louisa

by - Sunday, April 07, 2019




After You
Jojo Moyes
Penguin Books, 352 p
Big Bad Wolf, ICE Tangerang


Sinopsis:


Setelah Will tiada, hidup Louisa serasa hampa. Tak ada yang dilakukan selain melamun merenungi kepergian sang kekasih yang mengakhiri hidup nan tragis dengan cara bunuh diri. Ketika sedang melamun di atap apartemennya, tanpa sengaja ia jatuh terjun dari ketinggian yang mengakibatkan salah satu kaki dan panggulnya retak.

Selama pemulihan Louisa bergabung dengan komunitas Moving On Circle yang bertujuan saling menumpahkan unek-unek. Meskipun juga tetap bekerja sebagai kasir di bar bandara.

Pertemuannya dengan Sam seorang paramedis ambulans yang pernah menolongnya saat terjadi kecelakaan di kakinya mengantarkan dirinya ke suasana hati yang segar.  Cinta bersemi namun kedatangan remaja yang bernama Lily dan mengaku sebagai anak perempuan Will sontak membuat hari-hari Louisa menjadi sibuk dan penuh ketegangan.

Kehadiran keluarga yang selalu ada untuk Louisa beserta tingkah polah masing-masing anggotanya cukup membuat Louisa teralihkan dari masalah yang membelitnya; bayang-bayang Will, Sam yang sibuk, Lily yang badung, keluarga Traynor, tempat kerja, komunitas dan yang terakhir tawaran kerja ke New York. Kesemuanya adalah fase-fase yang harus ia jalani.

Sebegitu banyak pilihan, mampukah Louisa menetapkan yang manakah yang terbaik untuk hidupnya, Akankah ia korbankan cintanya demi pilihan itu?


Ulasan:


Setelah sebelumnya selalu membaca novel yang selalu bertema serius, kali ini saya sempatkan membaca yang ringan dan santai. Pilihan jatuh pada novel ini karena saya penasaran dengan isi cerita dan kelanjutannya. Novel ini merupakan sekuel dari sebelumnya yang berjudul Me Before You yang sangat laris penjualannya sehingga sampai dibuatkan filmnya.

Saya tak pernah membaca Me Before You, jadi ketika menonton filmnya, saya menikmati betul jalan ceritanya tanpa harus merasa kecewa atau senang atau mempertanyakan apakah sesuai dengan novel aslinya, Mengalir begitu saja.

Alasan membaca After You ini karena selain sedang diobral di pameran buku, juga karena saya tertarik dengan kelanjutan kisah Louisa yang digambarkan sebagai cewek yang kerap bergaya eksentrik dan unik ini. Dalam filmnya, pemeran Louisa berhasil membantu saya dalam mewujudkan sosok perempuan yang ceria, bersemangat, apa adanya, lucu dan heboh sehingga saya tidak kesulitan lagi untuk membayangkan seperti siapa Louisa ini saat membaca After You.

Novel Lama

Meskipun ini novel lama (rilis 2016), tapi sepertinya masalah-masalah yang ada masih cukup relevan untuk sekarang ini. Menarik sebenarnya menelusuri ceritanya karena ini adalah cerita yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari namun dikemas dengan apik dan dibumbui humor serta rasa haru yang menyentuh.

Sosok keluarga yang heboh, anak perempuan yang mencari jati diri, atau kebimbangan dalam memilihi karir yang tepat untuk masa depan adalah problema yang biasa dan membumi sekali. Terdengar familiar dan ada di mana-mana bukan?


After the emotional turbulence of the past week, it was good to be surrounded by a bit of normality (p.177)

Meskipun terkesan biasa, namun membacanya tak terasa monoton. Jojo Moyes cukup trampil dalam mengantarkan sebuah permasalahan yang dialami masing-masing tokoh berikut solusinya. Alur ceritanya sangat rapi karena pengarang ingin satu persatu dituntaskan dengan tidak terburu-buru. Perlu ada jeda dan letupan sebelum akhirnya ada kembang api kelegaan yang muncul semarak,

Memancing Tawa

Sosok Louisa yang  lucu, ayah dan ibu yang mengundang tawa serta yang lainnya terasa hidup dan seolah ada di sekitar kita. Manusiawi sekali dan tanpa sadar kita ikut hanyut dalam berbagai persoalan dan kelucuan yang selalu muncul  di antara anggota keluarga.


She was a little shocked, then momentarily suspicious,  patted her back to check for KICK ME signs, (p.178) 

Tokoh-tokoh lain cukup menyedot perhatian karena pengarang ingin fokus tak hanya tertuju pada Louisa namun dimunculkannya peran pendukung diperlukan sebagai pengisi ruang dan alternatif cerita agar ramai.

Meskipun bukan genre komedi, namun membaca novel ini kita akan selalu tersenyum dengan dialog-dialog yang keluar entah dari ayah, ibu, atau para peserta komunitas Moving On Circle. Dari kesemua peran, nyaris tidak ada tokoh jahatnya, justru sebaliknya tokoh yang memancing tawa bertebaran di mana-mana.

 "Is there anything else?"
 "Anything else what?" "Anything else you need to tell me.
 You know, apart from  jumping off buildings and bringing home long-lost children. You're not joining the circus or adopting a kid from Kazakhstan or something?" (p. 82) 

Di luar itu semua, novel ini sarat dengan kebersamaan, kehangatan keluarga dan kepedulian akan sesama. Meskipun Louisa diperingatkan agar tak perlu repot-repot mengurusi Lily namun langkahnya untuk mencari dan menyelamatkan Lily si anak hilang yang terpuruk itu sangat tepat.

"You know what makes me feel down? The way you keep promising to live some kind of life, then sacrifice yourself to every waif and stray who comes across your path" (p. 123)

Pengarang sangat pintar menempatkan porsi cerita antara Lily dengan Louisa  yang menjadikan emosi semakin teraduk-aduk dibuatnya.

Espektasi Tinggi

Mereka yang telah menamatkan Me Before You pasti akan mengharapkan kisah Louisa yang lebih menarik, memikat dan lebih mengejutkan di sequelnya. Ada yang kecewa, merasa biasa bahkan heran dengan alur kisah yang melenceng dari perkiraan. Bagi saya yang langsung membaca novel ini tanpa harus melalui yang pertama, terasa bahwa After you lebih nyata, lebih 'kena', lebih berbobot karena pesan-pesan yang disampaikan.



"Sometimes just getting  through each day requires almost superhuman strength" (p.190)

Memang terdengar biasa saja, namun sesungguhnya membaca novel adalah aktivitas yang tidak bisa diprediksi terutama oleh perasaan. Perasaan lega atau kecewa sama-sama memberi dampak yang berujung pada kesan keseluruhan usai membaca.



Sejujurnya saya suka banget membacanya. Ada tiga alasan untuk itu. Alasan pertama, bukan karena temanya yang receh banget seperti anak ABG yang minta perhatian, kekasih merajuk, atau seragam kerja yang aneh, namun karena saya suka dengan cara pengarang ini menceritakan dengan ringan dan mampu memberikan solusi yang diwakili oleh Louisa.

Alasan kedua adalah, kisahnya yang sangat Inggris banget, berlokasi di sebuah tempat bernama Stortfold yang sejuk, tipikal wilayah yang ramah dengan orang-orangnya yang hangat, sehangat keluarga Louisa.

Dan yang terakhir, karena novel ini meskipun sudah melewati 3 tahun lamanya, namun ternyata masih tetap memikat, tetap relevan dan yang tak kalah penting adalah pengarang mampu menahan kita untuk tetap membacanya hingga tamat.

You May Also Like

0 komentar