Seri Novel Lama: Jentera Lepas, Masa-Masa Mencari Jati Diri

by - Thursday, April 18, 2019




Jentera Lepas
Ashadi Siregar
Gramedia Pustaka Utama, 264 hal
Gramedia

Sinopsis:

Budiman simarito bukanlah pemuda yang bisa diandalkan. Sebagai mahasiswa perantauan yang tinggal di Jogjakarta dan nyambi menjadi wartawan, hidupnya justru bukan untuk menyelesaikan kuliah. Baginya kuliah hanyalah sekadar tempelan. Minat sebenarnya adalah membuktikan ucapan bapaknya yang terus mencemooh. Sesekali ia pun ikut menekuni drama atau lontang-lantung saja.

Tinggal di kos-kosan dan berinduk semang wanita yang kesepian makin melupakan tujuan ia berada di kota pelajar ini. Mbakyu Sinto memang selalu ditinggal pergi suaminya Mas Karsono yang sibuk dengan kegiatan kekiri-kirian itu.

Sepasang insan ini bertemu, menjauh, bertemu lalu berpisah lagi. Seakan takdir terlalu senang untuk mempermainkan keduanya.



Ulasan: 

Jentera adalah roda pemintal benang yang bisa diibaratkan sebagai alam semesta. Sementara benangnya itu sendiri adalah makhluk hidup yakni manusia.  Apabila jentera lepas,-dalam hal ini alam- berubah, maka manusia di dalamnya pun mau tak mau harus mengikuti arus zamannya. Tak ada yang bisa menduga dan bisa memprediksi akan bagaimanakah hidup seseorang hingga di akhirnya. Kita hanya mampu menjalani dan pasrah akan hal yang telah digariskan oleh yang di Atas.

Membaca novel lama apalagi ditulis oleh pengarang yang sangat terkenal seakan membuka lembaran lama yang penuh dengan peristiwa yang sedang terjadi. Kadang isi cerita masih bisa relevan dengan masa kini, kadang menjadi sebuah peringatan dan kenangan akan suatu zaman yang telah berlalu lama.

Pertama kali mengetahui nama pengarang Ashadi Siregar sebenarnya karena ia selalu dilekatkan oleh romantisme film Cinta di Kampus Biru yang pernah sangat terkenal dan pernah diputar di TV zaman saya masih SD dan TV nya masih berlogo TVRI (waduh...tua sekali ya). Padahal awalnya saya gak tahu kalau itu diangkat dari sebuah novel karya pengarang ini.

Pada masa itu novel sekelas Ashadi Siregar hanya bisa dibaca melalui peminjaman perpustakaan di sekolah, itu pun bukunya hanya ada satu buah yang mengakibatkan sampai sekarang saya belum pernah bisa atau sempat membaca novel roman tersebut.

Terkecoh

Hingga pada suatu hari, saat saya berjalan-jalan ke toko buku, saya melihat ada beberapa novel karya Ashadi Siregar yang dirilis kembali lengkap dengan sampulnya yang baru.

Awalnya saya sempat terkecoh oleh sampul dan judul novel ini karena saya tidak tahu kalau sebenarnya novel ini telah lama diterbitkan dan yang tengah saya baca ini dirilis dengan tanpa penambahan apa pun selain desain sampul baru plus cerita lama. Cerita lama yang nampaknya membuka borok dan luka penderitaan manusia-manusianya di tengah zaman yang bergejolak di masa itu.

Kisahnya diwakili oleh dua orang tokoh, Budiman dan Mbakyu Sinto. Namun pusat cerita tetap ada pada Budiman yang terbawa arus mulai dari zaman Orde Lama sampai Orde Baru. Pembagian cerita yang ditandai dengan tahun sejak 1964-1970 dengan alur maju mundur di kisaran tahun itu makin membuat pembaca memahami latar dan peristiwanya.

Sederhana

Cerita yang sederhana namun karena latar waktu dan tempatnya cukup akrab, membuat novel ini agak terbantu sedikit dalam hal pemahaman yang terjadi di masa itu. Latar waktu saat PKI sedang ganas-ganasnya berkuasa. Kemudian latar tempatnya adalah Malioboro atau Jogjakarta. Kedua hal ini mampu membuat saya menerawang. Namun menurut saya karena diembel-embeli dengan masalah isu PKI dan bersih lingkungan terasa bahwa ada jarak yang jauh dalam mengangkat cerita ini ke lebih bersuasana fiksi apalagi untuk sedikit ringan.

Cukup tahu saja bahwa kehidupan pada masa itu ternyata memang berat. Ada yang kuat menanggung hidup, ada pula yang tersungkur akibat tak mampu beradaptasi. Yang kuat pun perlu mengeluarkan banyak pengorbanan demi hidup itu sendiri. Mbakyu Sinto rela menjadi wanita penggoda, sementara Budiman menjadi sosok yang rentan.

Pada akhirnya jati diri yang seharusnya bisa digenggam seakan terlepas, dan harus mencarinya lagi dengan susah payah. Mbakyu Sinto berhasil bangkit sendiri demikian juga dengan Budiman yang lucunya bangkit kesadarannya justru saat berada di hadapan remaja bau kencur.

Cerita yang ditutup dengan sangat menggantung ini ( menurut saya sih  memang menggantung) biasanya menimbulkan kekesalan. Namun entah mengapa akhir cerita ini membuat saya lega. Dari Budiman kita bisa lihat bahwa idealisme yang ditampilkan adalah harga mati. Tetapi ada kalanya idealisme bisa menjadi tak ada artinya bila dibenturkan oleh kondisi yang semakin menghimpit.

You May Also Like

0 komentar