The Naked Traveler 8, The Farewell

by - Tuesday, May 07, 2019



The Naked Traveler #8:The Farewell
Trinity
B-First, 250 hal
Gramedia, Gandaria City

Sinopsis:

Seperti dalam buku-bukunya yang terdahulu, buku ini juga masih berisi tentang petualangan dan perjalanan penulis ke berbagai negara dengan berbagai kisah yang menyertainya baik itu yang lucu, menyenangkan,atau memalukan.

Kali ini Trinity membuka cerita mulai dari membandingkan jalan-jalan di zaman dulu (terasa tua ya?) dan sekarang, memberikan tips perjalanan yang disusun berdasarkan pengalama pribadinya, masa-masa ia menjelajah wilayah negeri pecahan berakhiran 'Stan' hingga pengalamannya mengkuti petualangan yang dikaitkan dengan mencari ilmu seperti sekolah Freediving dan mengikuti Residensi Penulis 2018 di Peru.


Ulasan:

Hal yang tetap menarik dari membaca buku seri Trinity adalah cerita-cerita recehnya dan membumi sekali saat ia melakukan perjalanan di luar negeri dan menemui kesialan (justru) di negara maju. Atau cerita hal-hal yang menyebalkan saat hendak melakukan perjalanan. Entah mulai mendekati bandara, berada di pesawat, serobot antrean atau tingkah polah penumpang yang membuat tidak nyaman.

Meskipun, di mana-mana dalam suatu perjalanan pasti kita akan menemui hambatan semacam di atas tadi, namun bila diceritakan oleh Trinity semua seolah menjadi paham bahwa suatu petualangan atau perjalanan pasti akan menemui sedikit kerepotan, bahkan oleh sosok seperti Trinity.

The Farewell

Buku seri yang ke-8 ini kalau dilihat sepintas terkesan masih sama  menariknya dengan buku sebelumnya dilihat dari buku dan gaya bercerita. Ada yang istimewa dari buku ini karena penulis mengucapkan tambahan kata The Farewell sebagai penegasan bahwa ini adalah buku terakhir.dari seri The Naked Traveler. Entah ingin ganti haluan atau bosan dengan tema traveling, menurut saya sesungguhnya kepandaian penulis dalam berceritalah yang akan tetap teringat dalam benak.

Jadi, ketimbang berkeluh kesah dengan royalty yang semakin kecil, lebih baik tetap menekuni traveling sembari menceritaka kisah-kisah yang unik. Dan mungkin nantinya akan ada jalan di mana sejumlah kisah itu bisa menjadi panduan dan dibukukan secara istimewa.
 
 Membaca buku ini saya kok merasa penulis kurang banyak dalam menngeksplorasi hal lain. Istilahnya asupan tulisannya kurang greget dibandingkan dengan buku sebelumnya.
 
(Baca juga : The Naked Traveler 7)

Alih-alih mengisinya dengan cerita tentang perjalanan yang lebih heboh misalnya, penulis justru menambahi dengan tips untuk newbie, atau tulisan  dari pengagum yang terinspirasi dengan perjalanannya. Itupun dari penulis yang masih ada hubungan dengan penerbitan (Racun itu Bernama Trinity).  Soal tips dan panduan saya rasa semua buku perjalanan paling tidak sudah pernah dan ada yang memuatnya. Jadi mengapa penulis ikut-ikutan menulis hal yang demikian? Apakah untuk menambah bobot?

Dan setelah selama ini disuguhi warna sampul yang berwarna-warni mulai dari  jilid 1-7 seperti biru, oranye, kuning, hijau, bahkan merah magenta, kali ini sampul terakhir diberi warna hitam. Agak membingungkan karena warna hitam identik dengan kedukaan, kesedihan atau kepergian. Padahal jika ingin terus dikenang mengapa tidak memilih warna sampul yang sekalian ngejreng, gonjreng saja agar terus teringat dalam pikiran pembacanya dan diingat sebagai buku yang mencerahkan. Mengapa harus hitam?



Muram

Bahkan yang lebih 'sedih' lagi halaman-halamannya banyak disisipi dengan warna hitam. Hhm...nampaknya warna hitam telah menjadi warna idola, penegas dan bukan penyelaras. Saya malah lebih suka warna di  lembar-lembar halaman yang ada di buku The Naked Traveler 1 Year Round-The-World-Trip. Lebih memotivasi baik dalam membacanya atau jalan-jalan.

Dengan warna sampul dan halaman serta isi kisah yang sudah 'apatis' duluan, situasinya malah makin menambah muram dalam membaca nampaknya. Satu-satunya kisah yang membuat saya membatin 'ini baru kisah Trinity' adalah saat menyusuri negara Asia Tengah, dalam Road Trip di 3 Negara "Stan" dan I Survived Public Toilets in Central Asia.

 Zona nyaman

Akhirnya bila ada pertemuan pasti ada perpisahan dan penulis telah dengan sangat baik menceritakan sebagian pengalamannya berupa cerita-cerita yang pasti tak akan lekang oleh waktu. Delapan jilid telah dikeluarkan, delapan tahun kita terhibur dan tercerahkan. Tak bisa dipungkiri isi ceritanya sangat menarik dan mampu mendorong orang-orang untuk bepergian keluar dari zona nyaman bahkan terinspirasi untuk ikut menuliskan sebagian pengalaman ke dalam buku bertema petualangan.

Sayang sekali, delapan menjadi angka pamungkasnya. Namun yang pasti spirit jalan-jalan akan tetap hidup.


You May Also Like

0 komentar