The Wanker

by - Friday, June 14, 2019



The Wanker
AliaZalea
Gramedia Pustaka Utama, 325 hal
Gramedia Mal Malioboro, Jogja


Sinopsis:


Pertemuan dengan seorang cowok yang tiba-tiba memeluknya di lift sebuah apartemen cukup memberi kesan yang ganjil baginya. Siapakah dia, lelaki yang tiba-tiba saja tak ada angin tak  ada hujan berdiri di dekatnya hingga harus memeluk tubuhnya?

Gadis mandiri bernama Lu pemilik klub malam Empire dan Underground dan yang mempunyai jadwal kerja yang tidak lazim ini tentu saja akan tersinggung berat bila mendengar pemikiran kotor yang tertanam di otak Nico, sang cowok tetangga baru sekaligus yang pernah memeluk tubuh selain Bobby. Lu memang gadis independen dan cuek dalam hal tertentu. Belum lagi kebiasaannya yang selalu memakai busana serba bebas saat berangkat bekerja. Kesan gadis nakal itu makin menjadi-jadi dan terus menimbulkan anggapan miring, terlebih di mata seorang penyanyi kelompok sekelas Pentagon, Nico.

Meskipun pertemuan demi pertemuan cukup mendekatkan keduanya, namun sebelum makin lekat dan menjurus ke hubungan yang lebih dahsyat,  ternyata ada hal yang harus diluruskan lebih dari sekadar sebagai tetangga. Sebuah asumsi yang menyesatkan dan makin membuat naik pitam Lu.


Ulasan:


The Wanker adalah novel kedua setelah Boy Toy dalam seri Pentagon. Mengapa disebut serial karena kemungkinan semua personil grup Pentagon akan dibuatkan kisahnya masing-masing, Dan setelah Boy Toy yang seru itu, muncul kisah dari personil kedua, Nico.

(Baca juga: Boy Toy)

Sebenarnya, karena tokoh dari kisah ini adalah seorang cowok, maka sudut pandangnya idealnya hanya berasal dari si cowok namun entah pertimbangan apa, pengarang membuatkan alur cerita dari kedua sisi. Sisi Lu dan Nico.  Gak apa-apa sih, cuma menurut saya itu malah membuat perjalanan alur menjadi rada tersendat-sendat.

Ini novel yang ringan sekaligus menghibur. Jadi tidak perlu heran  dengan kecepatan rata-rata pembaca yang hanya memerlukan waktu yang tak begitu lama untuk menyelesaikannya. Saya menyelesaikan novel ini hanya 4 hari saja, Setiap ada novel baru yang dirilis oleh Alia, selalu saja ada hal-hal baru yang diusung. Seperti Lu dengan status pekerja malamnya (tapi bukan PSK), atau situasi apartemen yang berhantu.

Dan karena ceritanya tidak terlalu mengernyitkan dahi, maka siapa pun yang membacanya akan selalu mendapatkan kesan bahwa novel -novel Alia Zalea renyah dan lucu untuk kategori Metro Pop. Drama yang ditonjolkan tidak terlalu menukik alias sedang-sedang saja. Si drama Kingnya  tentu saja  sosok Nico yang agak 'bucin' dan kurang move on. Ya, bagaimana lagi.

Membaca novel ini seakan menjadi ajang reuni dari tokoh-tokoh terdahulu yang sudah pernah dimunculkan oleh pengarangnya. Bagi yang belum pernah baca novel-novelnya, santai saja, itu tidak akan berpengaruh besar apabila kita langsung membaca The Wanker dulu sebelum Boy Toy atau Crash Into You.

Dan sama seperti dalam novel sebelumnya, kehidupan anak muda dengan pekerjaan milenialnya adalah ide yang masih menarik untuk diangkat dan dikupas. Tanpa ada sosok orang tua, seakan cowok dan cewek bebas untuk mencari pemecahan masalahnya sendiri. Kehadiran Kafka sebagai abang Lu, cukup sebagai wakil sosok orang yang dituakan -meskipun belum tua juga penampilannya- dan berfungsi sebagai layaknya orang tua modern yang mengingatkan dan memarahi agar tidak keluar jalur alias kebablasan.

Cuma, karena novel ini bukan untuk remaja imut-imut, maka dialog ala 17+ tahun pun akhirnya muncul juga di sana-sini. Tak apa-apa, Memang ini novel dewasa dengan rasa anak muda.

Kekurangan Kaum Cowok

Satu hal yang agak aneh adalah sikap si The Wanker, Nico. Mengapa ia harus merasa terlalu jijik dengan pandangan seorang perempuan malam? Padahal ia bisa saja menyelidiki terlebih dahulu, alih-alih menyimpulkan sendiri. Stereotip wanita yang bekerja malam selalu menjadi bahan pikiran yang terus mengendap sehingga rasanya agak naif untuk ukuran seorang cowok dengan reputasi terkenal namun tetap bertahan dengan pemikirannya yang negatif. Ini memang kekurangan kaum cowok di dunia dalam memandang perempuan yang dicap nakal.

Penyelesaian akhir pun menjadi agak bisa ditebak ya kan? Di luar semua itu, novel Alia Zalea sangat menghibur. Alur serta latar waktunya yang memakai waktu atau masa kini membuat novel ini dapat dicerna dengan mudah oleh pembaca dari semua kalangan.

Tapi jujur saja, novel ini kurang menghentak bagi saya.

You May Also Like

0 komentar