Seri Novel Lama: Dari Ngalian ke Sendowo, Semangat Seorang Lansia

by - Thursday, July 04, 2019



Dari Ngalian ke Sendowo
Nh. Dini
Gramedia Pustaka Utama, 292 hal
iPusnas


Sinopsis:


Nh. Dini melakukan suatu penentuan hidup yang penting dalam hidupnya yakni perpindahan. Tak hanya secara  materi, namun juga psikis dan pikiran. Jiwa yang harus dipaksa pindah dan didorong keinginan mencari suasana yang tenang dan damai itu ternyata menemui berbagai kesulitan.

Perpindahan dari Ngalian ke Sendowo ternyata tidak bisa menutupi perasaan bahwa hatinya masih mendamba sebuah tempat untuk menenangkan pikiran yang lebih hening.

Ia terdampar ke daerah Sendowo, Sinduadi, Mlati  Jogjakarta dan menetap di sana. Berbagai peristiwa terjadi dalam rentang waktu selama empat tahun. Hidup berdampingan dengan sesama penghuni lain dalam sebuah yayasan bernama Yayasan Wredha Mulya (YWM) cukup membuatnya merasa hidup dalam bermasyarakat.

Namun seiring dengan pembangunan dan lingkungan yang makin mekar, kesenyapan itu terasa mahal karena suasana bising telah menguasai dan memporak porandakan ketenangan lahir dan batin hingga mencapai puncaknya, sebuah gempa dahsyat melanda Jogjakarta.



Ulasan:

Novel ini menceritakan secara tunggal sosok terkenal, pengarang wanita yang sangat termahsyur di jagad sastra Indonesia, Nh. Dini. Ia selalu mengedepankan semangat kemandirian dalam berbagai hal baik kegiatan yang menyangkut diri sendiri maupun bermasyarakat.

Sebagai sebuah semi biografi, kita bisa melihat secara langsung bahwa seorang Nh. Dini tak jauh berbeda tipikal kesehariannya  dari sosok orangtua yang rewel, nenek yang penuh aturan yang ia tetapkan sendiri, dan perhitungan dalam menakar keuangannya.

Saya membaca novel ini tak sengaja, sebelumnya saya telah lebih dulu membaca novel Nh. Dini yang terakhir yang berjudul Gunung Ungaran. Dan kesan yang saya dapat adalah Nh. Dini memang senang sekali menceritakan hal-hal remeh yang kadang luput dari pikiran orang.

(Baca : Gunung Ungaran, Kisah Terakhir Seorang Nh.Dini )

Lewat iPusnas

Seharusnya saya baca novel ini dahulu lalu dilanjutkan dengan novel Gunung Ungaran, karena antara Ngalian-Sendowo-Gunung Ungaran terjalin ikatan yang menyambung. Seakan sebuah poros, ketiga tempat ini saling terkait satu sama lain. Meskipun secara latar, tidak berpengaruh namun, secara alur  jalan ceritanya langsung diteruskan.

Dalam novel Gunung Ungaran, penulis kerap menceritakan kepindahan terdahulu sebelum menginjakkan kaki di Gunung Ungaran. Ia beberapa kali menyebut Ngalian dan Sendowo yang menjadikan motivasi saya untuk mencari novel tersebut. Karena jujur saja, saya penasaran dengan novel itu. Ada apa di Ngalian dan Sendowo?

Syukurlah saya menemukannya via aplikasi iPusnas, dan karena bukunya tidak tebal-tebal amat, bacaan ini selesai hanya dalam waktu 3 hari saja, sesuai dengan waktu pinjaman novel di iPusnas pada umumnya.

( Baca juga : Pengalaman Memakai Aplikasi iPusnas )

Apa Adanya

Setelah membaca kisahnya, saya merasa bahwa Nh. Dini punya kekuatan yang sangat luar biasa untuk menceritakan hal-hal yang nampak sepele ini. Apa sulitnya mengupas aktivitas keseharian yang dilakukannya? Kita pun bisa menuliskan kisah sehari-hari kita dari mulai bangun pagi, mandi sarapan, berangkat kerja, pulang kerja lalu ngobrol di rumah dan tidur malamnya.

Namun apa yang dituturkan oleh Nh. Dini sanggup membuat saya terbuai, melenakan, merendah dan (mungkin) cerita saya tentang bangun tidur itu  tidak akan ada apa-apanya. Kekuatan tulisannya terletak pada kalimat yang mengalir lancar, diceritakan dengan gaya luwes, sederhana,  apa adanya dengan tuturan bahasa Indonesia yang fasih dan mudah dicerna.

Seorang lansia yang harus tetap semangat, mandiri dalam mengerjakan hal apa saja di tengah menurunnya kesehatan dan kesepian yang mendera. Itu tercermin dalam setiap larik kalimatnya yang mirip seperti curahan hati dalam sebuah buku harian saja layaknya.

Apa pun itu Nh. Dini telah memberikan  ciri khas yang tak mudah dilupakan pembacanya. Sarat dengan kegiatan yang dijalani, independen dalam mencari solusi serta tetap bersyukur kepada Tuhan atas segala rahmat dan kasihnya.

Secara keseluruhan, novel ini patut dikoleksi.

You May Also Like

0 komentar