Lethal White, Kuda Putih yang Mengaburkan Jejak

by - Tuesday, September 03, 2019



Lethal White
Robert Galbraith
Gramedia Pustaka Utama, 702 hal
Gramedia Online


Sinopsis:

Setelah memeluk tubuh Robin di anak tangga saat pesta pernikahannya, Strike seakan tak pernah bisa memandang wanita itu dengan kacamata yang biasa lagi. Perasaan dan pikirannya seakan telah tertancap khusus padanya. Apalagi setelah menjadi partner tetap di biro detektif. Di matanya sepak terjang Robin tak boleh diremehkan. Kasus pertama setelah Robin menikah diawali dengan kedatangan pria aneh bernama Billy Knight yang menyaksikan adanya pembunuhan terhadap anak kecil dan dikubur berselimutkan warna pink di lembah hutan dekat rumah ayah Billy.

Bersamaan dengan diprosesnya pengaduan Billy, Strike kebetulan juga diminta menyelidiki masalah menteri kebudayaan Jasper Chiswell yang diancam dan diperas oleh Jimmy kakak Billy. Jimmy adalah aktivis CORE yang memprotes Olimpiade Musim Panas dan akan berlangsung di kota London. Robin pun sampai harus menyamar sebagai anak baptis Chiswell dan bekerja di House of Commons - Dewan Rakyat Britania- agar dapat menyadap seluruh pembicaraan antara  Geraint Winn atau dengan siapa pun yang ada di Palace of Westminster yang berpotensi mengancam keselamatan Chiswell.

Penyelidikan yang melebar ke mana-mana serta melibatkan orang-orang di sekitar kekuasaan akhirnya  justru  berujung pada kematian sang menteri. Sejumlah orang di keluarga Chiswell termasuk Kinvara, si istri muda dicurigai dan satu per satu memiliki alibi yang tak terbantahkan.

Selain masalah pembunuhan Menteri Kebudayaan yang harus segera dipecahkan, rumah tangga Robin dengan Matthew pun membutuhkan perhatian yang tak kalah menegangkan. Alih-alih mempertahankannya Robin akhirnya harus memutuskan yang terbaik bagi kehidupannya.


Sinopsis:

Selamat berjumpa kembali dengan Strike, detektif  beken yang getol berjalan mengelilingi jalanan kota London dan selalu pantang menyerah dalam menyelidiki suatu kasus.  Dalam setiap petualangan Strike, selalu ada kasus baru yang benar-benar pelik yang harus ia pecahkan. Kali ini ia dibantu oleh partner yang juga mantan sekretarisnya bernama Robin beserta para asisten baru yakni Andy Hutchins dan Sam Barclay.

Salah satu yang saya kangeni dari kisah ini adalah petualangannya dalam menyusuri jalanan kota London serta mendatangi tempat-tempat dan  siapa saja yang dicurigai. Terlebih kasus ini unik karena diawali dengan kedatangan Billy Knight, seorang anak muda yang agak terganggu jiwanya.  Bagaimana seorang pemuda yang agak kurang waras mampu  melaporkan apa yang pernah ia yakini sebagai pembunuhan terhadap seorang gadis kecil saat masa kanak-kanak dulu? Di situlah  tantangannya.

Membaca novel setebal 700-an halaman ini saya membutuhkan kurang lebih 2 minggu untuk menuntaskannya. Menyelesaikannya bukan berarti ingin cepat-cepat tahu siapa pelakunya namun lebih dari itu. Hubungan personal antara dua rekan yang masing-masing memiliki kekaguman dan -sialnya hanya selalu tersimpan dalam hati saja- tidak bisa tidak telah menjadi magnet cerita yang sama menariknya dengan eksekusi akhir dan membuat penasaran.



Saya memang menanti kelanjutan hubungan antara Strike dengan Robin dan bagaimana interaksi keduanya yang sama-sama diwarnai masa lalu kurang menyenangkan. Padahal novel ini agak lebih  tebal salah satunya karena ada babak baru bagi keduanya yang dibentangkan. Strike dengan Lorelei, Robin dengan Matthew. Strike dengan Charlotte, Matthew dengan Sarah. Jangan bingung ya.

Di novel ketiganya -Career of Evil- kisah ditutup dengan pernikahan Robin dan Matthew serta kehadiran Strike di acara pernikahan yang sekonyong-konyong telah membuat hati Robin mendadak disiram es, terasa sejuk dan adem. Senang luar biasa rasanya mendapati Srike telah berusaha jauh-jauh untuk datang ke pestanya.

Lalu di novel yang keempat ini, tanpa basa-basi lagi pengarang langsung menyambung dengan cerita keseruan apa saja dibalik acara pesta pernikahan Robin. Sesuatu yang melegakan dan menjawab rasa penasaran bagi kita pembacanya. Bahagiakah Robin?

(Baca: Career of Evil, Titian yang Membentang)

Kalau dibandingkan dengan kisah-kisah sebelumnya, polanya tetap sama. Ada pembunuhan, penyelidikan, pertemuan dengan beraneka macam latar belakang saksi lalu eksekusi. Bagi yang telah membaca novelnya mulai dari jilid 1 sampai 3, aksi pembunuhan selalu menjadi pusat perhatian, demikian pula di kisah pembunuhan jilid ke-4 ini yang meskipun melibatkan pihak House of Commons,  pasti awalnya kita  akan mengira kisah ini akan terasa 'berat' dan monoton dengan para pelaku dari kalangan terhormat dan kelas atas. Alih-alih menemukan sesuatu yang lebih mengerikan dari novel terdahulu, kasus kali ini menurut saya terasa 'receh' kurang dahsyat dan terkesan biasa-biasa saja untuk ukuran detektif yang telah sukses menangkap pelakunya dalam kasus Shacklewell Ripper.

Ada kalanya penyelidikan begitu seru karena sasaran atau calon tersangka seakan telah benar-benar menjadi sosok yang (diduga) bersalah, atau saat Strike harus menggagalkan poster yang akan dibentangkan oleh Jimmy saat demo menentang Olimpiade. Ada kalanya pula kisah  terasa melankolis karena selalu ada sosok Charlotte yang sejak di novel pertama- The Cuckoo's Calling- bahkan berusaha mengembalikan kenangan indah bersama Strike meskipun detektif ini telah berusaha melupakan kisah kasih mereka.

(Baca juga : The Cuckoo's Calling, Kematian Sang Model)


Robin Lebih Manusiawi

Dari kesemuanya, kiprah Robinlah yang amat menarik untuk disimak. Setelah memasuki pernikahan rasanya kegalauan makin menjadi-jadi sehingga berujung pada penyesalan. Baru di novel inilah pengarang menunjukkan perasaan Robin yang lebih manusiawi. Dan kita seakan diajak untuk ikut bersimpati atas posisi subordinatnya akan penindasan masa lalu yang terus didengung-dengungkan Matthew.

"Kau harus menyakitiku kalau ingin mencegah aku pergi, tapi kuperingatkan, aku akan menuntutmu atas dasar penyerangan, itu tidak akan bagus dampaknya di kantor, kan?hal 529

Transformasi kepribadian Robin lebih terlihat jelas di novel ini karena mungkin sudah saatnya Robin keluar dari cangkangnya. Robin menjadi lebih mahir dalam teknik rias wajah, mengubah penampilan atau kepribadian termasuk aksen saat menyamar menjadi pelayan di toko perhiasan Triquetra. Ia juga lebih berani dengan anggapan-anggapan dan inisiatifnya dalam mengorek informasi termasuk saat berteman dengan Flick, pacar Jimmy atau ikut masuk ke pesta minum di apartemen Flick lalu menggeledah wadah penyimpan barang bukti  di kamar toilet.

Gong Pembunuhan

Alur cerita masih khas dengan gaya yang diusung dalam novel-novel sebelumnya yang penuh dengan teka-teki, meliuk-liuk untuk menemui berbagai sumber. Dengan latar suasana demam Olimpiade Musim Panas yang tengah berlangsung di kota London, cerita makin menukik kala pesta olah raga digabungkan dengan kasus pemerasan yang diterima Menteri Kebudayaan, Chiswell. Namun berbeda dari biasanya, pengarang menempatkan gong pembunuhan justru di tengah cerita.  Kisah ini terbagi dalam dua bab, dan di bab dua ini dibahas misteri dan pemecahannya. Mungkin ini sesuatu yang di luar kebiasaan atau akan menjadi tren bagi novel berikutnya, mungkin lho.



Saya merasa bahwa kefasihan dalam menuturkan kisah ini masih berbanding lurus dengan  kualitas pelakunya. Ditingkahi oleh berjejalannya orang-orang yang akan menjadi calon tersangka. Maka kondisinya sangat ramai dan membuat bingung pada awalnya namun makin terlihat jelas posisi dan motifnya. Padahal pembunuhan ini menurut saya masuk kategori biasa. Korban mati karena kehabisan oksigen. Sudah begitu saja.

Lalu bagaimana dengan kuda putihnya? Memang terkesan tak ada kaitannya, namun percayalah jika membaca sampai akhir akan terjawab seluruhnya.

Di atas sudah dikatakan semua pihak berpotensi menjadi tersangka namun hanya satu saja yang benar-benar menjadi pelakunya. Dan pengungkapannya sangat brilian, karena alih-alih Strike yang menangkap, partner kerjanya di biro detektif kali ini yang justru ambil bagian.

Eksekusi Akhir

Kalau ingin menebak siapa pembunuhnya, sebenarnya mudah bila kita bisa menyadarinya dari awal karena petunjuknya ada. Namun karena kepiawaian sang peramu cerita yang meraciknya hingga meliuk-liuk, ditambah banyaknya orang yang terlibat, menjadikan kita ibaratnya agak kehilangan, tersesat lalu putus di tengah jalan.

Sampai nyaris habis novel selesai dibaca jujur saja saya belum 'ngeh' juga dengan pembunuhnya. Entah karena terkecoh oleh pihak Scotland Yard entah karena saya terlalu terpaku oleh penahanan Kinvara dan Flick. Maka ketika Robin bergegas pergi, saya merasa sisa cerita akan baik-baik saja.


You May Also Like

0 komentar