Seri Novel Lama: Max Havelaar, Upaya Menjalankan Politik Etis

by - Saturday, September 21, 2019




Max Havelaar
Eduard Douwes Dekker (Multatuli)
Qanita, 474 halaman
Gramedia, Gancit

Sinopsis:

Kedatangan seorang asisten residen Lebak Banten yang baru telah menimbulkan perubahan yang dahsyat di wilayah itu. Bahkan akibat kebijakan yang pro pribumi inilah sepak terjang Max Havelaar,sang asisten baru, selalu menimbulkan panas dingin dan menjadikan suasana kampung Lebak menjadi kurang tenang dan damai.

Akhirnya karena selalu melontarkan kritikan yang sebagian besar menyangkut cara pembagian hasil bumi, tanam paksa, pajak tanah hingga pertanian, Max Havelaar dipindahkan ke residen Ngawi untuk penugasan berikutnya.

Sementara itu Saijah yang telah memiliki kerbau kesayangan dan telah berulang kali dirampas oleh pihak bupati mendapati kenyataan kekasihnya yang bernama Adinda telah tiada dan janji untuk bertemu serta menikahi gadis itu setelah 36 purnama  akhirnya kandas meninggalkan kesedihan yang tiada tara.


Ulasan:

Novel ini pertama kali saya kenal saat berada di bangku sekolah dasar. Awalnya hanya disebut-sebut sebagai roman terkenal yang seangkatan dengan karya Sutan Takdir Alisyahbana, Marah Rusli, dan lainnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Hingga, saat ini baru kesampaian baca, dan terus terang terpukau sekali oleh alur cerita dan suasana yang dijadikan latar cerita.

Masa kolonialisme adalah masa yang penuh penderitaan bagi bangsa Indonesia. Rentang antara tahun 1800-1900-an adalah masa penuh gejolak akibat persinggungan kepentingan antara mereka yang merampas hasil bumi secara brutal dan diperasnya tenaga manusia. Hasil bumi seperti rempah-rempah selalu diangkut ke Belanda karena permintaan pasar yang meningkat dan akibat dari ini mendorong terbelahnya pandangan antara tetap mengambil komoditas atau perlunya untuk lebih memanusiakan orang-orang di tanah jajahan.

Meskipun slogannya adalah demi kemakmuran semua pihak, tak bisa dipungkiri bahwa bagi sebagian orang Belanda, pribumi beserta tanah jajahannya tak lebih hanya dipandang  sebagai barang komoditas.  Adanya politik Etis menimbulkan gerakan yang pro dan kontra antara harus membela kepentingan negeri sendiri atau mendidik bangsa terjajah sebagai upaya balas jasa.

Diiringi oleh semangat dan gerakan politi Etis yang melanda wilayah Belanda inilah novel Max Havelaar lahir. Membaca novel ini seakan kita dipaksa untuk memahami bagaimana sulitnya untuk membela sesuatu sementara di sekeliling kita masih bertebaran orang-orang yang bertahan untuk tidak ingin berubah.

Max ingin menerapkan sesuatu berkaitan dengan tanam paksa, namun seluruh pihak mulai dari pengawas Verbrugge, bupati hingga kepala desa Distrik Lebak seolah tak mungkin bisa untuk melaksanakan perintah yang memihak rakyat. Berbagai deraan hingga memiskinkan rakyat dilakukan justru oleh para antek-antek bupati demi mendapat pujian dan sanjungan dari kaum penjajah.

Dengan tuturan lewat seorang makelar kopi bernama Tuan Droogstoppel, cerita ini menjadi sangat hidup, unik dan apa adanya.  Gaya penceritaannya menjadi sangat menarik karena dituangkan lagi melalui tokoh Max Havelaar yang sering mengenakan selendang kotak-kotak sehingga dijuluki Tuan Sjaalman dan yang meminta Tuan Droogstoppel agar menerbitkan dokumen berisi kisahnya sendiri, Max Havelaar.

Membaca terjemahan langsung dari edisi bahasa Inggris karya Baron Alphonse Nahuys dan referensi dari H.B. Jassin dengan penyesuaian di sana-sini agar bahasanya lebih dicerna, tetap saja bagi pembaca awam akan merasa 'lelah' karena terbentur oleh gaya penulisan sang tokoh yang tiba-tiba menjadi 'aku' atau orang ketiga, sesuai dengan kebutuhan cerita.  Meskipun dibatasi oleh bab-bab, alur cerita tiba-tiba berubah sesuai dengan sudut pandang pencerita.

Namun di luar itu semua, jangan lupakan  nuansa klasik dari isi novel ini yang ternyata memberi kesan yang menarik. Seperti apa kondisi Hindia Belanda, bagaimana lingkungan kabupaten Lebak,  bagaimana daerah-daerah lain seperti Batak bergolak yang diwakili oleh kisah  Max yang pernah bertugas di wilayah Natal, Sumatra Utara, situasi yang terjepit bagi rata-rata penduduk di masa penjajahan dan lain-lain, itu semua sedikit banyak memberi gambaran betapa ketidakadilan menjadi sesuatu yang kerap menimbulkan kecemburuan sekaligus kehancuran.

Muatan novel ini menjadi lebih kaya lagi dengan suguhan surat menyurat yang dikirim dari Residen Banten untuk Max Havelaar atau surat sanggahan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ditambah dengan lampiran-lampiran yang berisi bait-bait puisi yang kata-katanya asli Indonesia namun ditulis dengan logat Belanda.

 Demikianlah, novel Max Havelaar menyuguhkan kisah yang memedihkan, namun memberi sedikit pelita kemajuan bahwa tak semua orang Belanda itu bengis. Seluruhnya mencerminkan bahwa sosok Max Havelaar adalah wakil dari golongan yang ingin sekali menjalankan politik Etis, namun sekali lagi terbentur oleh pribumi penguasa yang nampaknya lebih suka mempertahankan keserakahan.

Novel yang membuka mata dan memperkaya batin.

You May Also Like

0 komentar