Membeli Buku dan Menjualnya

by - Saturday, November 09, 2019



Perkara hobi adalah sesuatu yang tak bisa dihilangkan begitu saja. Apalagi bila menyangkut koleksi. Hobi saya adalah membaca dan membeli buku, novel, majalah atau koran. Tanpa ada bacaan atau tulisan rasanya hidup ini kosong ( blank) sekali.  Harus selalu ada bacaan yang memberi asupan otak secara memadai kapan pun dan di mana pun. Entah sedang naik kendaraan atau saat makan pagi setidaknya ada bacaan yang nempel di pikiran. Itulah potret keseharian saya.

Penjabarannya mulai dari bangun pagi yang harus menggenggam ponsel untuk melihat isi berita terkini sampai menjelang tidur sembari memegang novel dahulu agar kantuk lekas datang. Kesukaan saya adalah membeli novel terutama fiksi. Bila ada rilis novel baru, sudah dipastikan saya akan berburu sampai dapat dan menyelesaikan bacaan segera.

Kadang-kadang saya beli novel tapi tertunda membacanya karena ada yang sedang saya kerjakan. Kadang saya beli novel lagi dan lagi hingga saya lupa, apakah novel ini sudah saya baca atau belum. Namun yang pasti, semua novel yang saya miliki pasti saya baca.


Berat Melepas


Setelah sekian lama asyik membeli dan membeli, rupanya koleksi bacaan saya telah sukses menggunung, menjulang, membukit, munjung memenuhi setiap sudut hingga bingung mau diapakan buku sebanyak ini. Akhirnya saya harus merelakan sebagian (sebagian dulu, belum sepenuhnya) untuk diberikan ke orang lain alias saya jual.




Ternyata tak semudah itu melepas barang yang kita sayangi. Ada masa-masa di mana saya lama menimbang-nimbang buku yang harus dijual. Terutama buku yang memiliki cerita mengesankan dan masih berkaitan dengan masa kini seperti saat membaca novel berjudul Sudut Mati atau Resign!

(Baca: Resign!)


Atau kisah yang menimbulkan decak kagum sehingga entah kapan dan mungkin belum akan ada lagi buku sejenis Aroma Karsa karya Dee Lestari diterbitkan.

(Baca: Aroma Karsa - Penjelajahan Kehendak Sebuah Penciuman )


Namun, buku tetaplah buku yang akan membawa pesan-pesannya sesuai zaman. Jadi, tak perlu cemas akan terbangnya pesan yang disusun secara tulisan. Lisan tetap akan terpatri di benak dan seandainya hati ini masih ingin membaca ulang lagi, pasti akan banyak sumber yang menyediakannya. Entah lewat aplikasi atau jalan lain. Eranya memang demikian. Kita tinggal mengikuti masa saja.

You May Also Like

0 komentar