Lima Buku Terbaik 2019

by - Tuesday, December 31, 2019



Wah ternyata kita sudah berada di penghujung tahun 2019 ya. Tak terasa begitu cepat waktu berjalan dan semua seolah berlalu dengan diam-diam, hingga tanpa sadar kita sesaat lagi akan melangkah ke tahun yang unik, 2020.

Buku atau novel yang saya baca selama ini jenisnya masih tetap sama, fiksi namun khusus untuk tahun 2019 ini, saya banyak melahap novel yang kisahnya di luar zona nyaman. Maksudnya tak hanya cerita tentang kehidupan masa kini tapi juga membahas masa lalu di luar yang tak kita perkirakan dan rasakan.


Praktisnya begini, selain membaca novel dengan tema tentang drama beserta gaya hidup di masa sekarang yang sarat dengan kemudahan, ternyata saya menemukan keasyikan tersendiri dengan membaca novel klasik yang dilatar belakangi oleh pendekatan sosiologi di masa sebelum saya lahir semisal masa kolonial atau masa di mana kawin paksa begitu dominan di salah satu suku bangsa di Indonesia (waduh, berat kayaknya nih ya).

Baiklah, tanpa berpanjang kata saya ingin merekomendasikan kelima buku yang telah saya baca di sepanjang tahun ini dengan segala keceriaan dan semangat yang terbawa usai membaca novelnya.





1. Orang-Orang Biasa, karya Andrea Hirata

Nama besar pengarangnya masih mampu menarik para pengagum untuk membaca novelnya. Kisahnya sangat unik dengan tema besarnya yakni pendidikan bagi si anak negeri. Kalau membaca ceritanya kita pasti akan setuju bahwa bagaimanapun pendidikan bagi seorang anak harus diperjuangkan tak peduli bagaimana caranya.

Abaikan saja omongan sumbang yang menyatakan bahwa tebalnya novel ini sebagian karena berisi berlembar-lembar narsisme akan prestasi novel sebelumnya yang diterjemahkan. Yang terpenting adalah isi kisah ini penuh dengan orang-orang biasa yang suaranya kadang nyaris tak pernah didengar oleh kalangan tak biasa.



2. Lethal White (Cormoran Strike #4), karya Robert Galbraith

Perkara yang selalu diselidiki oleh detektif Strike selalu saja menimbulkan rasa ingin tahu dan menarik karena selain menceritakan asal muasal suatu kasus, dalam setiap penyelidikan detektif ini sangat tenang dalam menyikapi berbagai perubahan baik yang diterima dari tersangka atau korban. Sudah menginjak jilid yang ke-4, namun tetap saja daya tarik utama seri novel ini tetaplah soal hubungan platonis antara Strike dengan Robin yang menurut saya cukup membuat penasaran.

Jangan lupakan peran sang pengarang yang sangat piawai dalam mengolah alur sehingga menimbulkan rasa penasaran dan terperangah bagi pembaca terutama saat saya membacanya sampai habis.



3. Max Havelaar , karya  Multatuli

Sedari awal saya tahu bahwa novel ini memang sangat berbobot namun entah mengapa saya baru bersedia membacanya pada tahun ini. Sejak SD hingga perguruan tinggi, saya hanya mampu melewati saja rak-rak perpustakaan yang memuat novel ini, hingga akhirnya saya tergerak membacanya karena kisahnya yang masuk kategori klasik.

Setelah membacanya dengan tuntas, hanya satu komentar yang keluar dari saya, dahsyat. Masa-masa penjajahan, kolonialisme, budak, penguasa,dan sebagainya adalah hal yang jauh di luar pikiran anak manusia yang hidup di alam kemerdekaan. Penting kiranya bagi setiap orang Indonesia untuk sekali saja seumur hidupnya membaca novel klasik sekelas Max Havelaar ini agar tahu sejarah dan masa lalu Indonesia di masa itu. Patut dikoleksi.




4. Gunung Ungaran , karya Nh. Dini

Novel yang apa adanya dalam menggambarkan lika-liku hidup. Dibalik kesederhanaan dalam bertutur lewat kata dan kalimat, sosok penulisnya adalah pribadi yang tak melupakan kebaikan hati setiap individu yang pernah berinteraksi dengan beliau. Terlepas dari kekurangannya, sosok Nh Dini adalah teladan dalam menjalin hubungan dan bersilaturahmi baik dengan rekan, teman, sahabat atau keluarga. Cerita yang dituturkan sangat personal, detail dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Novel ini menjadi istimewa karena kisah-kisah yang tertulis merupakan peninggalan terakhir yang disusun oleh sang penulis.




5. Origin, karya Dan Brown

Di luar espektasi yang berlebihan akan terbitnya novel ini, tak bisa dipungkiri bahwa novel ini selalu memiliki satu keunggulan. Sains. Sains yang dicampur adukkan dengan berbagai disiplin ilmu terutama agama masih menjadi bumbu tema yang menawan.

Dalam novel ini pengarang nampak serius meriset berbagai hal sebagai penunjang isi cerita mulai dari seni, sejarah, filsafat bahkan evolusi. Dan itu yang membuat saya selalu ikut mempelajari dan terbawa oleh petualangan sang profesor, Robert Langdon.

Novel ini bagi saya cukup bergizi karena ceritanya selalu dikaitkan dengan ilmu-ilmu pengetahuan, di mana pembahasannya sangat bisa dipahami dan memaksa otak untuk sedikit terbuka dalam menerima masukan-masukan aneh. Tidak serius tapi juga tidak santai.

***

Itulah lima judul novel yang menurut saya cukup mewakili arti dari kata terbaik untuk tahun ini. Adakalanya dalam ulasan terkesan tidak begitu menarik isi novelnya. Namun percayalah dari berbagai perspektif yang dipilih secara acak, kelima buku ini adalah yang paling saya rekomendasikan untuk dibaca, dilihat, dibaca ulang, dikoleksi atau ditimang-timang saja. Benang merahnya adalah buku-buku ini sanggup membuat saya memiliki pemikiran dan wawasan yang lebih luas lagi akan satu hal, terngiang-ngiang, menjadi lebih kritis dan menembus batas.


You May Also Like

0 komentar