Filosofi Teras, Memasrahkan Hidup dengan Pikiran Positif

by - Wednesday, January 15, 2020



Filosofi Teras
Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini
Penerbit Buku Kompas
Blok M Square


Sinopsis


Ini adalah buku self-help yang mengangkat tentang permasalahan jiwa yang merdeka tanpa ada campur tangan orang-orang atau omongan negatif yang berseliweran dan  mendera pikiran kita. Terdiri dari dua belas bab yang mengupas dari awal mulai dari kegelisahan si penulis yang dideteksi mengalami depresi, kemurungan, frustrasi dan rasa sedih berkepanjangan yang imbasnya memengaruhi beberapa orang terdekatnya hingga ke bab yang paling dihindari untuk dibicarakan orang, yakni kematian. Dilengkapi dengan lima narasumber di masing-masing bab tertentu serta intisari di setiap babnya.

Penulis memberikan pengalamannya dengan gamblang dan sederhana akan permasalahan hidup yang pernah ia hadapi dan bagaimana ia berhasil mengatasi hambatannya. Pikiran-pikiran negatif yang selalu berkecamuk dalam dirinya berhasil ia balikkan menjadi energi dan berpikiran lebih positif.

Selain memperkenalkan apa itu filosofi teras lengkap dengan contoh kekinian khas anak zaman Milenial, buku ini bisa sedikit memberi kita jalan menuju ketenangan jiwa karena pengarangnya sendiri telah menerapkan dengan baik berbagai langkah dalam menjalani hidup sesuai filosofi Teras ini.

Ulasan


Sejak buku ini pertama kalinya diterbitkan, baru hari ini dan tahun ini saya membacanya. Mengapa? Semata-mata karena saya ingin menantang diri ini yang hanya selalu senang membaca novel fiksi. Saya tak mau pikiran saya monoton dengan fiksi dan genre sejenis saja, namun juga terbuka untuk membaca buku lainnya yang bisa memberi wawasan lebih. Anggap saja intermezo yang memberi gizi pada otak.

Filosofi Teras dan Filosofi Kopi, Sama?

Saat membaca sampulnya, pikiran saya justru ke jenis novel lain yang berjudul Filosofi Kopi. Apakah yang diulas sama? Jelas beda.

Apa  perbedaan antara filosofi kopi dengan filosofi teras? Meskipun sama-sama memakai kata filosofi, yakin deh bedanya jauh banget, Filosofi atau filsafat bukan hanya soal yang berat-berat seperti yang kita kenal di bangku kuliah semacam Naturalisme, Realisme, Materialisme dan lain-lain. Namun kita bisa juga memberi label filosofi sesuai dengan yang ada di sekeliling kita seperti filosofi hujan, filosofi padi, filosofi senja, apa saja, bebas.

Filosofi Teras yang sedang diperbincangkan di sini bukan karena di teras lebih adem ketimbang di aula namun karena ini adalah sebutan bagi seringnya kaum Stoa di Athena Yunani untuk berkumpul di sebuah teras berpilar yang disebut Stoa saat Zeno, seorang pedagang tekstil dari Turki mengajarkan ilmu filsafatnya.

Ajaran-ajarannya kalau dikaitkan dengan masa sekarang ini ternyata masih sangat relevan dan dekat dengan permasalahan hidup sehari-hari, salah satunya penanganan tentang emosi yang sebagian besar justru bukan yang dikendalikan oleh kita misalnya opini orang lain, tindakan orang lain, cuaca, banjir, kekayaan, kesehatan, razia sepeda motor dan sebagainya.

Dan buruknya justru itu yang kian memperbesar pikiran negatif sehingga kadang kita tak mampu melihat gambaran besarnya.

"Ada hal-hal di bawah kendali dan tergantung pada kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita"  -Epictatus ( Enchiridion) hal 46

Misalnya kalau kita mengalami kemacetan yang berkepanjangan kita biasanya akan marah-marah, kesal, frustrasi, sebal dan benci. Kemacetan memang di luar kendali dan keinginan kita dan reaksi yang timbul adalah murni emosi kita yang tersulut akibat tak sejalan dengan harapan ( jalanan lancar, cepat sampai rumah, langsung mandi dan makan bersama keluarga). Efek yang keluar adalah perasaan yang meledak-ledak yang sayangnya akan terbawa sampai rumah, menulari orang di rumah dan memberi imbas yang tidak bagus bagi ketenangan batin.

Dalam filosofi Stoa semua itu diredam dan dihilangkan perlahan-lahan hingga kita akhirnya akan memiliki perasaan yang lebih nrimo, lebih terbuka untuk hal-hal yang sulit dijalankan, lebih bijak, sabar dan tawakal.

Membutuhkan Waktu

Tak hanya soal macet, penulis juga memberi contoh-contoh yang lebih rumit seperti bagaimana cara mengendalikan persepsi dan interpretasi yang bermain-main dalam pikiran kita. Menurut saya penulis sudah cukup detail dalam hal melukiskan hal-hal yang berkaitan dengan situasi-situasi yang dihadapi. Namun untuk penerapannya memang membutuhkan waktu.

Tetap saja untuk mempraktikkan filosofi Stoa tidak langsung mudah, adakalanya kita mengalami denial, penyangkalan yang kronis. Misalnya saat kita menanti kereta komuter yang tak kunjung tiba sementara perut sudah keroncongan. Pasti kita akan marah dan kesal. Wajar sih. Dan selagi pikiran kita sudah dipenuhi perasaan benci oleh si kereta dan tak peduli apakah lokomotifnya sedang rusak misalnya, bukannya memaklumi kita malah berupaya tetap menyalahkan kereta dengan tetap merasa 'bukan saya yang salah, tapi keretanya yang salah".

Santai Saja

Dari berbagai hal dan contoh yang ditulis, menurut saya kesimpulannya adalah 'santai saja'. Tak perlu jadi baper oleh berbagai hal yang awalnya sederhana namun malah tambah rumit. Tak perlu menjadi stres apalagi sampai berhari-hari karena toh ini hanya 'sementara'.

Frustrasi karena follower instagramnya cuma sedikit sementara sahabat kita sudah ribuan jumlahnya misalnya disikapi dengan santai saja karena kemampuan kita untuk menambah follower masing-masing tidak sama. Orang lain mau jungkir balik bikin IGTV setiap hari karena ia memang punya banyak waktu, kesempatan dan materi. Sementara kita yang sudah sibuk dengan urusan rumah tangga sudah pasti tak akan bisa. Tidak apa-apa. Memang dia dan kita berbeda. Kembali lagi ke awal, santai saja.

Membaca buku ini kita merasa bahwa filosofi Stoa itu tidak rumit dan berat. Interpretasi dan pikiran kita sewaktu melihat buku ini adalah, "Wah, buku ini berat, pasti filsafat banget teorinya". Dan ya memang pikiran buruk itu sudah ada dalam benak saya saat pertama kali melihatnya. Namun karena buku ini bertengger di urutan nomor satu di salah satu toko buku serta dinobatkan menjadi Book of The Year maka pikiran buruk itu saya singkirkan dan akhirnya bisa saya ulas hari ini.

Untuk sebuah buku yang ditujukan untuk mental yang tangguh masa kini rasanya masih pas sekarang-sekarang ini. Bagaimana bila nantinya dibaca minimal dua tahun lagi apakah masih tepat? Ada baiknya dibuat sekuelnya sehingga bisa terus mengantisipasi kasus yang makin berkembang ke depannya.

You May Also Like

0 komentar