Kambing dan Hujan, Teguhnya Sebuah Kesalahpahaman

by - Tuesday, January 28, 2020



Kambing dan Hujan
Mahfud Ikhwan
Bentang Pustaka
Bookmate App


Sinopsis


Mif dan Fauzia telah lama berpacaran dan ingin meresmikan hubungan keduanya ke jenjang pernikahan. Namun jalan menuju ke pelaminan sangat terjal dan berliku-liku akibat ego kedua orang tua yang masih enggan merestuinya.

Tak dinyana ada sebuah rahasia besar dan kelam yang membuat kedua calon besan ini tak ingin mereka berdua resmi menikah. Perjalanan untuk mengungkapkan rahasia itu sangat panjang dan melibatkan tak hanya keluarga namun juga seluruh warga desa Tegal Centong, tempat Mif dan Fauzia tinggal..

Apa yang telah terkubur lama dan menjadi benang kusut serta pernah dialami oleh Pak Kandar dan Pak Fauzan -masing-masing sebagai orang tua Mif dan Fauzia- akhirnya harus terurai demi keberlangsungan dan kedamaian kedua belah pihak. Lagipula, Shalat Shubuh pakai atau tidak pakai doa Qunut seharusnya tidak menjadi ganjalan yang makin diperlebar perbedaannya.

Perbedaan selalu ada, namun cinta kasih Mif dan Fauzia terlalu kuat untuk ditumbangkan begitu saja.

Ulasan



Awalnya hanya ingin membaca novel Indonesia di aplikasi Bookmate ini. Setelah selama ini selalu membaca novel dalam bentuk buku, rasanya ingin juga membaca novel secara digital. Lalu muncullah judul novel Kambing dan Hujan di antara puluhan judul yang ditawarkan di aplikasi buku ini. Dari judul dan cover alias sampul novelnya saja sudah menimbulkan ketertarikan dan rasa penasaran. Apalagi saat membacanya, sungguh dahsyat pada akhirnya.

Karena tidak terlalu sering membaca novel secara digital, maka membacanya harus diperlukan kedisiplinan karena ternyata format kertas dan layar ponsel pintar amatlah berbeda terutama dalam penomoran halaman, penanda halaman dan suasana membacanya. Jangan salah, saya masih tetap setia untuk selalu membaca buku tebal tetapi membaca via aplikasi juga sama nyaman dan enaknya. Lagipula sesekali membaca novel di aplikasi tak apa-apa kan? Hitung-hitung untuk selingan juga serta menambah wawasan baru.

Fikih dan Tauhid

Membaca novel ini kesan yang didapat adalah sebegitu benci dan sengitnya sebuah perseteruan, toh pada akhirnya akan luluh juga karena keluarga. Berbulan-bulan, bertahun-tahun hingga ke anak cucu amuk amarah itu bersemayam hanya karena persoalan yang sangat remeh sekali. Mirip dua keluarga Romeo dan Juliet. Atau jangan-jangan pengarang mengambil sebagian ide dari kisah cinta karya Shakespeare ini.

Mengambil latar di sebuah desa bernama Tegal Centong dengan dua kubu aliran agama yang sangat berpengaruh di Indonesia; NU dan Muhammadiyah, kisah yang sederhana ini akhirnya  menyerempet ke bagian hal yang paling menarik dikupas saking sensitifnya yakni perbedaan pandangan agama terutama dalam ilmu fikih dan tauhid.

Namun alih-alih menguraikan berbagai perbedaan, pengarang justru membingkainya dengan santun, bijak dan jenaka dalam menghadapi konflik-konflik yang terus terjadi di desa Centong ini. Munculnya dua masjid yang berseberangan -masjid Utara dan masjid Selatan menandakan bahwa paham keagamaan telah sangat kuat terutama pada saat menyambut hari raya 1 Syawal.

Pengarang tidak memungkiri bahwa permasalahan perbedaan jatuhnya hari raya masih terus diperdebatkan dan nampaknya tetap berlangsung hingga kini. Dan rupanya potret semacam ini di tingkat akar rumput bisa berakibat dua hal, mencemaskan atau baik-baik saja.

Meskipun terkesan kisahnya melebar ke mana-mana dan seakan tak ada kaitannya dengan plot utama, namun konflik-konflik yang dijalin pada akhirnya bermuara pada penyatuan dua pihak yang bertikai.

Desa yang Tenang

Latar ceritanya sangat menarik, sangat pedesaan-minded, dan mengingatkan saya akan novel-novel karya Achmad Tohari. Penyebutan seperti Gus Dul, Lik Manan, dan Cak Ali, Pakde Anwar adalah sebagian tokoh yang mewakili akar rumput di tanah Jawa. Mengingatkan pada suasana desa yang guyub, ayem namun juga menyimpan sekam yang siap menghebohkan satu desa.

Awalnya cerita ini saya kira hanyalah kisah cinta belaka, tak disangka plotnya menyebar dengan subplot-subplot yang tak kalah menariknya. Seakan ini adalah cerita dalam cerita. Kisah Mif dan Fauzia hanyalah permukaannya saja yang belum ada apa-apanya. Kisah sebenarnya justru ada dalam sub plot tersebut.

Perseteruan antara ayah Mif yang bernama Pak Kandar dan ayah Fauzia yakni Pak Fauzan seolah mengingatkan kita bahwa luka dan kesalah pahaman akan terus mendera pikiran sehingga bila tak dicari jalannya, maka kesadaran akan kesalah pahaman itu mungkin akan datang terlambat bila tak ada yang berinisiatif untuk mendamaikan kedua kubu.

"...Namun apa dayaku, apa daya mereka berdua. Yang mereka kini hadapi bukan semata tungku panas. Api itu bukan saja membakar habis dua rumah...bisa apa segayung air di hadapan sebuah kampung yang terjebak kobaran api? Ah, anak-anak yang malang..."(918)


Kemahiran si pencerita dalam menceritakan sub plot kisah Pak Kandar atau Pak Fauzan yang diluncurkan dengan mulus mungkin menjadi salah satu kelebihan kisah ini karena ceritanya spontan, ada bobot dan menjelaskan pada kita untuk apa kisah ini dibuat. Bagaimana persahabatan kedua bocah lelaki yang sama-sama pintar, kompak, dan saling membantu akhirnya harus berseberangan akibat salah paham yang berlarut-larut.

Merasa Merana

Melihat bagaimana terkejutnya Pak Kandar dan Pak Fauzan karena kedua anak mereka bertemu,  saling jatuh cinta serta ingin menikah rupanya menjadi sinyal bahwa jerami kering mulai terbakar. Pak Kandar yang Muhammadiyah sementara Pak Fauzan yang NU digambarkan sebagai ayah yang bingung dan tak kuasa untuk menyetujui karena kita sama-sama tahu kedua aliran besar itu memang berbeda dalam cara pandang.

"Kita dulu mengira bapak-bapak kita adalah dua musuh bebuyutan yang tak terdamaikan. Ternyata mereka dua sahabat karib, bahkan saling memanggil dengan panggilan "saudara".(405)


Konflik-konflik yang terbangun dari berbagai tokoh protagonis, antagonis atau abu-abu sekalipun nampaknya dengan cerdas digulirkan tanpa merasa merana. Mif yang muda dan mengenyam bangku kuliah masih tetap kalah pengalaman dari para orang tua. Bahkan klimaksnya sangat tepat dan tak terduga. Padahal tadinya saya kira puncak klimaks kisah ini akan diisi oleh pemberontakan Mif dan Fauzia misalnya.

Haru Biru

Roman yang indah sekaligus rusuh. Bercampur antara sedih, gembira, emosi, kecewa, tapi juga jenaka dalam mengungkapkan kata-kata sehingga pembaca tidak merasa bosan atau bingung meskipun POV-nya berubah-ubah. Kadang cerita dimulai dari sudut pandang Pak Kandar, kadang berganti Pak Fauzan, balik lagi ke Pak Kandar, atau Pakdhe Anwar.



Entah disitulah istimewanya novel ini atau karena hal lain ketika Mif menangis bahagia karena Pak Kandar mengabarkan bahwa beliau setuju berbesanan dengan Pak Fauzan, hati yang membaca ini sukses ikut merasa terharu dan senang karena perjuangan cinta Mif akhirnya menemui muaranya. Pengarang mampu membuat suasana haru biru begitu dekat ke pembacanya dan ini luar biasa.

Novel ini sederhana tapi mencerahkan. Isinya mengena dan tepat sasaran karena mengetengahkan bagaimana tema sesensitif itu bisa diantarkan dengan baik dan lancar tanpa ada yang merasa jengah atau tersinggung. Tak heran novel ini diganjar sebagai pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014.  Biasanya pemenang novel isinya selalu agak membingungkan dan sulit 'dipahami' oleh pembaca awam, namun tidak untuk Kambing dan Hujan. Meskipun novel lama namun isinya masih tetap relevan dan masih enak dinikmati sampai sekarang.

Gumuk Genjik

Yang kita tahu percintaan Romeo dan Juliet berakhir tragis, namun dalam Kambing dan Hujan hubungan Mif dan Fauzia akhirnya beranjak ke babak baru yang lebih melegakan. Sebuah rekonsiliasi indah di Gumuk Genjik pun terjadi. Tambahan lagi terjawab pula makna dari judul Kambing dan Hujan ini. Plus simbol sebotol susu di sampul novel itu.

You May Also Like

0 komentar