Kata: Tentang Pergumulan Hati Biru, Binta dan Nugraha

by - Monday, January 27, 2020



Kata: Tentang Senja yang Kehilangan Langitnya
Rintik Sedu
Gagas Media, 404 hal
Blok M Square


Sinopsis


Binta adalah gadis yang tertutup, sosok yang tak pernah menonjol di perkuliahan Komunikasi dan hanya berteman dengan Cahyo yang dikenalnya sejak kecil. Suatu hari semesta menjadikannya berjumpa dengan seorang cowok baik, pintar, dan anak orang kaya bernama Nugraha.

Meskipun Nugraha menyayangi Binta apa adanya dan mencintai setulus hati, namun Binta tak bisa membalasnya karena hati dan perasaannya telah terisi oleh cowok yang lain, Biru namanya.Padahal Biru hanya menganggap gadis ini sebagai sahabat dan adik yang harus dilindungi sejak kanak-kanak.

Nugraha mengejar Binta, Binta mengejar Biru, lalu Biru melepas cewek itu dan merengkuhnya lagi. Akankah Nugraha pasrah atas nasibnya yang tak bisa memiliki gadis ketus itu? Sekali lagi semesta mempermainkan harapan-harapan yang muncul dan walau hanya setitik namun asa itu telah memberi arti dan pembelajaran mendalam.


Ulasan


Menjadi anak kuliah adalah suatu pencapaian berikutnya setelah lulus SMU. Seharusnya masa kuliah adalah masa yang menyenangkan. Masa di mana kita merasakan kebebasan dalam sikap, berpikir dan berkehendak, tak lupa menjadi dewasa tak hanya dalam menuntut ilmu namun juga belajar untuk memahami perasaan terutama isi hati sesungguhnya dalam diri masing-masing tokoh.

Meskipun rada klise karena bercerita tentang cinta anak muda dengan segala permasalahannya, novel ini mampu mengisahkan cinta segitiga dari sisi yang lain, mengolahnya tanpa ada friksi yang berlebihan dan emosi meledak-ledak. Cinta, asmara dan rasa sayang yang nyaris terhempas serta harapan yang ditabur itu lebih tepatnya.

Sesuatu yang manis dari novel setebal 400 halaman ini adalah bahwa melalui kata -baik yang terucap maupun yang masih terpendam di hati- adalah tuturan yang mewakili perasaan dan benak dari masing-masing tokoh.


Komunikasi


Awal mula Binta atau Senjani masuk ke jurusan Komunikasi bukan karena ia ingin bisa terjun di bidang komunikasi namun justru karena ia tak tahu apa yang harus ia komunikasikan pada lawan bicaranya. Sosok ini digambarkan sangat begitu anti sosial dan jarang bergaul bersama teman-temannya. Dan setelah bertemu dengan Nugraha sedikit demi sedikit perasaan yang ia pendam mampu ia ungkapkan.

"Ta, lo suka binatang, nggak?"
"Mungkin kura-kura," jawabnya tiba-tiba. 
Nug menoleh penasaran. "Kura-kura?' hal. 19

Cerita model begini banyak sekali saya temukan, terutama di FTV atau Teenlit atau cerita remaja tapi yang istimewa dari novel ini adalah kata-katanya yang telah menjadi penopang dan pembuka jalan bagi perasaan Binta yang tertutup, benak Nugraha yang sedang dilanda kasmaran atau pikiran Biru yang penat oleh kebimbangan. Sedikit puitis tapi tidak neko-neko, ada keresahan namun optimis, ada kegundahan tapi pantang menyerah, begitulah.

Membaca karya Rintik Sedu ini tanpa sadar telah menjadi suatu momen yang membuat saya menjadi ingat akan novel-novel yang bercerita tentang cinta sejati, tulus dan mau menerima kekurangan. Kisaran tahun 80-an dahulu, banyak sekali novel yang menceritakan tentang cinta dan ketulusan lalu berakhir dengan bahagia (karya-karya Mira W, Marga T atau Maria A Sardjono).

Dan bila saat ini ada pengarang generasi Z yang mengambil tema seperti demikian kita harus menyambutnya karena bagaimanapun pasar dunia buku masih tetap lebih suka dengan hal-hal yang bertema cinta beserta konflik yang mengikutinya.

Banyak yang Dipertanyakan

Kalau melihat ratingnya di Goodreads, kebanyakan para pembaca Kata memberi skor di angka tengah alias biasa saja, padahal bagi saya novel ini sangat baik, sangat lain dari yang lain karena tak hanya menampilkan dialog-dialog yang terdengar sepele dan garing tapi bermakna dalam, namun juga ada kalimat puitis yang selevel dengan puisinya Sapardi.

Abaikan saja kondisi ketidakkonsistenan dari tokoh Binta yang katanya tertutup tapi bisa juga riang saat makan nasi uduk di kantin. Abaikan lagi sikap Nugraha yang tak pernah jengkel dengan sikap Binta yang selalu ketus dalam berbicara. Dan satu lagi, abaikan sang ibu yang hanya duduk mematung akibat skizofrenia.

Ada banyak yang blank dari membaca cerita novel ini. Mengapa Ibunda Binta tidak dibicarakan penyakitnya? Mengapa Biru sudah berada di Banda Neira? Ngapain dia di sana? Mengapa Cahyo tidak jatuh cinta pada Binta? Mengapa Ayah Binta tidak diusik lebih jauh? Banyak sekali pertanyaan yang menuntut jawaban. Seakan pengarang tidak ingin memberi ruang sedikit pun pada tokoh lain. Padahal mereka semua ada di sekeliling Binta.

Artinya, masalah Binta lebih penting dari sekadar nasi uduk dan sang ibu yang sakit. Begitu kira-kira.

Kata Perantara

Hanya melalui kata, kita akhirnya menjadi tahu rahasia terdalam dari ketiga tokoh ini. Pengarang memang lebih mengedepankan kata sebagai perantara atawa jembatan. Entah sebagai jembatan rindu, amarah, kekesalan, atau kegembiraan dalam mengungkapkan perasaan.

Pada akhirnya, kisah ketiga tokoh ini menjadi sesuatu yang tidak sekadar tempelan lagi namun penting karena kesemuanya dipersatukan oleh sang kata-kata. Kesadaran dari tokoh bernama Binta dan Biru di akhir kisah seolah memberi tanda bahwa perasaan sayang itu tidak bisa ditipu atau dimanipulasi. Dari mana pembaca mengetahuinya? Dari kata yang mengalir puitis di benak mereka berdua tentu saja.

Nah, untuk sebuah bacaan khas romansa anak muda, novel ini tidak mengecewakan kok, justru memberi kelas yang lebih baik dibandingkan dengan kisah cinta ala anak alay. Dialognya kuat, latarnya masa kini dan di kota Jakarta (meskipun sekarang sudah banyak yang jarang naik metro mini). Dan salah satu hal keren dari novel ini adalah digambarkannya tempat bernama Banda Neira sebagai alternatif latar selain Jakarta dengan indahnya.



Pokoknya dibawa menyenangkan saja saat membacanya. Biarkan mengalir dan nikmati kata dan kalimat puitisnya, dijamin pasti akan tersadar betapa dahsyatnya sebuah kata dalam mengubah perasaan hati seseorang.


You May Also Like

0 komentar