Tukar Takdir: Bila Takdir Bermain-main dalam Hidup Kita

by - Thursday, January 09, 2020



Tukar Takdir
Valiant Budi
Gramedia Pustaka Utama, 224 halaman
Gramedia-Gancit


Sinopsis


Novel ini berisi kumpulan cerpen yang menceritakan kisah-kisah supranatural, absurd, indera keenam,  deja vu, indigo dan sedikit bumbu kelucuan. Ada dua belas kisah atau takdir yang diungkapkan dan sangat menarik semuanya yaitu:

  • Takdir 1: Diulang Sayang
  • Takdir 2: Serupa dan Serapuh
  • Takdir 3: Duta Rumah Tangga
  • Takdir 4 :Kunci Pencari Pintu
  • Takdir 5 :Kelainan Itu Kelebihan
  • Takdir 6: Centong Ajaib
  • Takdir 7: Pembohong yang Jujur
  • Takdir 8: Pencinta Butuh Pelarian
  • Takdir 9: Hidup yang Sangat Berat
  • Takdir 10: Melupakan Pengingat Diri
  • Takdir 11: Aroma Masa Lalu
  • Takdir 12: Singgasana Kekal

Detik-detik menjelang jatuhnya pesawat adalah sesuatu yang horor sekaligus menyakitkan terlebih bila akhirnya hanya kita satu-satunya yang selamat seperti dalam Diulang Sayang.

Suka duka sebagai pemain sinetron ternyata menarik untuk diulik dalam Serupa dan Serapuh. Ketika sang pemain yang akrab disapa dengan Akang Cianjur ingin kembali menjadi orang yang biasa-biasa saja maka dicarilah akal untuk memanipulasi sosoknya. Sang Akang ingin kembali menjadi orang yang lugu sehingga menjadi tugas si Kembaranlah pada akhirnya untuk mengambil alih peran tak hanya dalam sinetron saja namun merambah ke kehidupan pribadi si Akang.

Selagi Kasha mampu memperdaya orang-orang untuk dikuras uangnya dengan cara menipu identitasnya dalam Pembohong yang Jujur, Ratri sendiri memiliki permasalahan serius berkaitan dengan indera keenamnya  dalam Kelainan Itu Kelebihan, meskipun mampu membaca hidup seseorang, ironisnya Ratri tak mampu meramal hidupnya sendiri.

Sementara itu toko vintage milik Pak Hagen yang awalnya sangat tenang berubah menjadi heboh. Banyak pembeli menukar atau mengembalikan barang kuno yang telah dibeli karena benda-benda itu seolah ada penunggunya dan sukses membuat mereka ketakutan. Bahkan penjaga yang bekerja di toko ini pun memilih mengundurkan diri dalam Aroma Masa Lalu.


Ulasan


Lama sekali saya menantikan novel terbaru dari pengarang ini. Setelah novel Valiant yang terdahulu dalam Kedai 1001 Mimpi yang keren itu, sepertinya daya imajinasi dan risetnya begitu membuncah dan melampaui ekspektasi dalam menelurkan karya kali ini. Seperti yang dituturkan dalam kumpulan cerpen terbarunya, saya merasa sebagian isi Tukar Takdir mewakili rasa, tindakan, pengalaman dan pikiran pengarangnya sendiri.

(Baca : 1002 Mimpi: Dangkal)


Mulai dari Takdir 1 sampai 12 kisah yang dituangkan seakan memiliki benang merah yang sama, yakni dunia yang tak kasat mata, dunia yang nampaknya jarang dijelajahi sampai ke bagian paling rumitnya, dan mungkin dunia yang sulit diterima akal sehat.Tidak selalu bersifat hitam putih, atau benar dan salah namun setiap cerita Tukar Takdir selalu menyuguhkan problema yang pasti dialami oleh setiap orang dengan intensitas kesadaran tertentu.

Mengenali beberapa Takdir, hal yang paling menonjol adalah bahwa ceritanya sangat membumi, sehari-hari dialami dan dihadapi oleh orang-orang tertentu yang memang berbakat untuk mengalaminya dengan ketidakpastian yang menjadi landasannya. Dalam Takdir 5, sosok anak indigo bernama Ratri yang piawai dalam mengantisipasi hal yang di luar nalar sekalipun masih saja tidak mampu mengenali takdir kematiannya sendiri.

Berakhir Miris

Yang saya suka dari novel ini adalah sebagian isinya tidak serius-serius amat dan berkali-kali menemukan plot twist di beberapa cerita Takdir ini. Pengarang sudah memiliki ciri yang menjadi gayanya yakni permainan kata (berima). Kadang guyon, kadang serius bak filsuf. Dalam Takdir 3 dan Takdir 6  meskipun terkesan kocak namun keduanya berakhir dengan miris. Takdir 11 adalah kisah yang mampu membuat saya tersenyum kecil karena alur ceritanya yang tidak disangka-sangka.

Keesokannya, aku meminta izin untuk mengundurkan diri. "Kenapa?" Pak Hagen tampak tidak senang..."Saya ingin hidup tenang, Pak"..."Hidup tenang? Kamu sadar apa yang apa yang kamu katakan? Kamu lupa kalau kamu sudah mati?" hal 209 

Tema dari masing-masing Takdir ini membawa perenungan tersendiri bagi pembaca bahwa dunia ini tak sesederhana seperti apa yang telah terhidang di depan mata. Ada banyak letupan, kejutan, sesuatu yang tersembunyi dan tak terlihat yang ternyata juga memberi pandangan yang sangat pelik untuk diterima mentah-mentah ke dalam alam pikiran manusia.

Akal yang Terbatas

Problema masyarakat yang selalu menginginkan jalan pintas demi meraih kesuksesan secara instan yakni dengan memakai pesugihan atau penglaris diantarkan dengan serunya oleh pengarang lengkap dengan latar budaya Betawi dan dialog tokoh-tokohnya yang khas. Kasus seperti ini jamak di dunia usaha namun kadang peristiwa ini tetap belum bisa diterima oleh akal kita yang terbatas ini. Yang kita sadari adalah kita tahu konsekuensi dari larangan yang dilanggar itu terlebih bahwa itu adalah perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama.

Dalam Takdir 6 yang berjudul Centong Ajaib, pengarang memberi pelajaran yang sangat menohok sekaligus jorok karena realitas masyarakat memang cenderung demikian adanya. Bila penglaris dilanggar ada akibat yang harus diterima dan kali ini cukup membuat saya jadi tertawa geli sambil membayangkan kalau itu benar-benar terjadi.

Reinkarnasi

Dari kedua belas kisah ini, saya angkat topi untuk kisah yang paling bontot, Takdir 12, Singgasana Kekal. Ada kedalaman dan pesan serius yang kalau menurut saya sangat penting untuk kita renungkan. Di luar konsep reinkarnasi, pada dasarnya manusia akan terlahir kembali untuk entah sebagai apa wujudnya, kapan itu terjadi atau di mana ia akan muncul kembali di muka bumi. Tidak ada yang tahu apakah pandangan ini benar atau tidak namun kemungkinan untuk terlahir kembali bisa saja ada.

Semua kisah menarik, satu per satu memiliki keunikan yang memberi kesan tertentu. Rasanya inilah novel yang dibuat dengan sangat matang, terencana baik dan sesuai dengan zamannya yang sekarang. Hebatnya lagi pengarang mampu menggambarkan setiap kisahnya dengan senyata mungkin seakan 'ya, memang seperti itu orang mengalaminya'.

Manakala zaman kita telah melaju dengan berbagai perangkat digital namun jauh di relung batin kita tetap masih percaya akan tajamnya indera keenam, warna-warni aura, penglihatan indigo, dukun yang sakti hingga insting naluri yang setia menuntun dan melindungi kita.

You May Also Like

1 komentar

  1. Y... Kedai 1001 Mimpi seperti Novel Tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata...hebat.

    ReplyDelete