Napas Mayat, Napas Roh yang Menuntut

by - Thursday, February 27, 2020



Napas Mayat
Bagus Dwi Hananto, 196 hal
Gramedia Pustaka Utama
iPusnas


Sinopsis:

Karena selalu dilecehkan dan dicemoohkan, jiwa yang sakit hati ini akhirnya memberontak. Ia yang berjiwa atheis menghabisi Bibi Besar yang selalu tertawa keras dan menghabisi Marbun teman sekerjanya hanya karena alasan yang sepele. Ia bantai, potong dan mencincang daging kedua korban itu dengan tanpa rasa dosa. Bahkan untuk merasakan kemenangannya, ia mengoleksi dan menyimpan masing-masing kepala korban dalam sebuah toples dan menyembunyikannya di dalam kulkas di suatu rumah yang lain.

Meskipun dendam telah terbayar namun ia tetap merasa kesepian. Jiwa yang hampa walau ada banyak wanita yang menghampirinya seperti mantan kekasihnya di sekolah dahulu atau perempuan binal lainnya, tak juga ia mampu hilangkan rasa gelisah itu.

Setelah selalu dikejar oleh bayang-bayang kedua korban lewat mimpi, akhirnya ia menyadari perbuatannya dan menyerahkan diri kepada pihak berwajib. Ia menyesal dan harus membayar segala perbuatan kejinya dengan menjalani hukuman mati.


Ulasan:


Judul novel ini sudah lama sekali saya ketahui dan telah membuat saya ingin sekali membacanya. Kebetulan saya menemukannya di iPusnas dan langsung mengunduhnya. Ada semacam daya tarik tersendiri yang makin membuat penasaran akan judul yang menyeramkan dan horor ini. Selain karena menjadi pemenang III DKJ 2014, isi kisahnya sangat mencengangkan.

(Baca juga : (Pengalaman Memakai Aplikasi )

Seperti biasanya novel yang menjadi pemenang DKJ pastilah masuk daftar genre kisah yang unik; baik dari segi jalan cerita, tokoh, dialog, latar tempat maupun waktu. Ada kekhasan dalam penyusunan cerita mulai dari pembukaan, konflik, eksekusi hingga katarsisnya.

Novel ini dibuka dengan tindakan brutal dari si tokoh lelaki bernama Aku yang didorong oleh rasa bencinya, akhirnya memutuskan untuk membantai serta memotong lalu mencincang mayat korban. Seakan belum hilang dari kengerian, sang tokoh juga membumbui daging manusia itu untuk ia jadikan makanan sehari-hari.

Membius Mempesona

Kanibalisme menjadi titik perhatian yang membuat pembaca terpaku karena pengarang dengan begitu lancarnya menceritakan tahap demi tahap sebuah proses pembunuhan dengan sangat detail. Kisah yang absurd, gelap, kuat dalam mengangkat tema, sekaligus bikin mual karena menjijikkan.

Selain adegan pembunuhan, jiwa yang miskin akan penerimaan diri ini juga mengalami keterasingan baik dalam hidup apalagi berinteraksi antar manusia. Jiwa yang mempertanyakan cinta, Tuhan dan sisi humanisnya. Baru kali ini saya membaca kisah yang blak-blakan seperti ini. Begitu membius, mencekam, tapi juga mempesona. Manusia tak ubahnya dengan hewan yang haus akan keinginan untuk memangsa dan segera ingin membinasakannya.

Menurut saya, secara ide novel ini sangat orisinil dan mungkin satu-satunya yang membahas tentang cara-cara membunuh dengan gamblang. Namun ada kalanya saya merasa terlalu jenuh dengan monolog yang disampaikan si tokoh. Ada bagian yang membuat mata ini bosan akibat tokoh yang terlalu banyak merenung, bicara dengan bayangannya, atau mimpi-mimpi buruknya.

Pengarang masuk di waktu yang tepat untuk menyelesaikan konflik dengan memberikan pengalaman bagi si Aku untuk mengalami koma dan memasuki dunia Limbo, itu adalah momen di mana tokoh mulai mengalami kesadaran akan fitrahnya sebagai manusia.

Alur kisah ini seakan memasang gebrakan yang ditaruh di awal agar pembaca terikat. Lalu kita dibawa berselancar mengarungi dunia yang berisi hal-hal yang tidak realistis agar dapat lebih memahami jiwa si Aku ini.

Bobot Setara

Di bagian pertengahan cerita alur menurun karena tokoh berjumpa dengan beberapa wanita serta dimulainya gangguan mimpi tentang korban-korban yang dibunuh. Kisah mulai menukik lagi saat ia mengalami penyesalan dan ingin menyerahkan diri kepada pihak berwajib.

Kalau melihat jalinan kisahnya yang lempeng dan paralel seperti ini, terkesan sangat menjemukan. Entah para juri yang sangat menyukai tipe cerita seperti ini atau pikiran saya yang belum dapat menangkap intisari kisahnya yang lebih detail, namun dalam pandangan saya kisahnya patut diapresiasi karena bobotnya setara dengan kisah-kisah yang pernah saya baca dalam novel pengarang keren lainnya seperti Eka Kurniawan atau Ayu Utami.

Di akhir cerita barulah kita temukan bahwa betapapun buruknya sifat dan perilaku seseorang, akan tetap ada seseorang yang menganggapmu sebagai teman baik. Ada sisi baik dan buruk yang sama-sama membentuk karakter diri dan pribadi seseorang. Tinggal pilih sisi mana yang akan memandumu.

"Karena dulu bagiku pertemanan adalah lumbung kekecewaan yang selalu membutuhkanmu jika ia butuh tapi menghempaskanmu saat mereka tidak membutuhkanmu" hal.171


Dari sini bisa terlihat bahwa manusia dengan segala keterbatasannya masih mampu untuk melihat  hal-hal yang baik yang bisa dipakai sebagai modal untuk diterima kembali ke lingkungan meski terlambat. Sebuah katarsis yang sendu dan muram.


You May Also Like

0 komentar