Kisah Hidupku: Potret Masa Kecil dan Perjalanan Hidup Andy Noya

by - Tuesday, April 07, 2020



Andy Noya: Kisah Hidupku
Robert Adhy Ksp, Andy F. Noya
Penerbit Kompas, 418 halaman
Pinjam

Sinopsis:

Ketika masih kecil Andy senang sekali dengan pelajaran mengarang dan ia tak pernah mengira bahwa kesenangannya dalam menulis telah mengantarnya untuk serius menjalani profesi sebagai wartawan. Padahal saat itu Andy nyaris tidak diperbolehkan untuk mendaftar di kampus IISIP hanya karena bukan lulusan SMA. Meskipun begitu, ia gigih untuk bisa menjadi seorang mahasiswa jurnalistik.

Lahir dan hidup berpindah-pindah tempat karena kondisi orangtuanya dimulai dari Makasar, Jayapura, Surabaya, Malang, lalu Jakarta, memaksa Andy untuk selalu menerima apa saja yang diberikan kepadanya. Mulai dari rumah kontrakan yang sempit, teman-teman yang memandang remeh karena dianggap anak kampung, dan juga kondisi kedua orang tuanya yang hidup berpisah.

Ketelatenan, kegigihan dikombinasikan dengan kelihaian dalam menjalani hidup telah menempa diri Andy Noya menjadi pribadi yang tenang namun tegas, tanpa kompromi dan tidak main-main dengan sogokan saat telah berkarir sebagai jurnalis.

Dalam gelimang hidup sebagai wartawan, peran seorang Surya Paloh telah banyak memberi warna hidupnya dan sedikit banyak membentuk kepribadiannya.

Ulasan:

Wah, saya puas sekali membaca novel biografi ini. Padahal awalnya saya agak memandang remeh dengan kemunculan buku ini. Waktu itu saya merasa, seorang Andy Noya yang kelasnya baru sebagai pembawa acara Kick Andy, ngapain ikut-ikutan bikin biografi segala, macam para pejabat atau orang penting dan berjasa bagi negeri saja.

Parahnya lagi saya masih mengulur-ulur waktu untuk membeli bukunya. Ah, sebentar lagi pasti turun harga nih, pikir saya dan karena selalu menunda dan menanti harga murah, saya tak kesampaian sama sekali untuk membacanya. Walhasil akhirnya saya bisa menikmati bukunya baru-baru ini saja saat suasana pandemi Covid19 sedang melanda seluruh dunia.

Masa Pergolakan

Mengapa saya baru membacanya, karena saya termakan atau tertipu atau 'terpedaya' oleh ucapan Andy Noya di acara favorit saya Kick Andy saat itu yang menyatakan bahwa acara yang selalu tayang tiap Jumat malam tersebut adalah tayangan yang terakhir. Dan saya serta jutaan penonton setianya menafsirkannya bahwa sang pembawa acara ini akan mengundurkan diri alias sudah selesai.

Spontan saya lalu teringat oleh buku biografi beliau yang pernah rilis pada 2015 dan tiba-tiba saja saya ingin sekali membacanya. Padahal kalau saya tanya ke toko buku, bukunya sudah tidak ada lagi. Dan memang semesta sedang mendukung barangkali karena ternyata kakak saya sudah pernah membaca dan memilikinya. Langsung saja saya minta mengirimkan buku itu.

Berbeda dengan kebanyakan buku biografi tokoh-tokoh yang pernah saya baca, Kisah Hidupku ini sangat dekat dengan kondisi masa kini dan kurang lebih sama dengan yang pernah dialami oleh mereka yang berada di rentang tahun1980-an sampai 1990-an termasuk saya sendiri. Masa-masa itu penuh dengan gejolak amarah dan kekerasan politik sehingga setiap hari menjadi sangat berkesan bagi yang menjalaninya.

(Baca: Cahaya di Penjuru Hati, Kerasnya Sebuah Kemauan)


Setiap kali saya membaca kisah Andy Noya saat berada di masa penuh pergolakan seperti Krismon, kerusuhan Mei 98, presiden Gus Dur, Bom Natal, jatuhnya Menara Kembar di Amerika atau lahirnya stasiun berita pertama bernama Metro TV, seakan perjalanan hidup saya juga ikut terkuak dan teringat kembali.

Saya pun pernah menjadi 'pengamat' saat peristiwa-peristiwa itu berlangsung. Ketika Andy Noya menceritakan tahap-tahap perjalanan hidupnya yang dikaitkan dengan perkembangan berita besar pada masa itu, seakan saya pun ikut berada di pusaran waktu tersebut namun dalam ruang dan lokasi yang berbeda. Efeknya, saya pun ikut larut dan terbawa dalam bacaan yang seru pada masa pasca kerusuhan baik Mei 98 atau Kudatuli atau saat Pam Swakarsa sedang menjadi biang keributan di seantero Jakarta.

Agen Inspiratif

Pada saat saya sedang terkagum-kagum oleh cepatnya berita tersaji tentang peristiwa yang sedang booming di televisi, tak disangka ada sosok di balik cepatnya berita itu yang mengupayakan kabar mencekam segera tayang. Andy Noya justru telah berinisiatif dan ikut andil dalam menetapkan berita apa saja yang mampu menjadi headline dan Breaking News di stasiun Metro TV.

Dalam membaca biografi, sebenarnya saya pribadi lebih tertarik dengan pengisahan dari sisi keluarga si tokoh tersebut. Maksudnya bagaimana hubungan antar keluarga mulai dari ayah, ibu, kakak dan adik itu bisa memberi kontribusi bagi perkembangan kepribadian si tokoh itu hingga besar nanti. Atau gambaran apa yang mungkin si tokoh ini bisa seperti sekarang setidaknya bisa terdeteksi melalui hubungan antar persona di rumah.

Muatan kisah dalam biografi ini tersaji padat. Ada masa kecil, masa remaja, dan dewasa yang walaupun bukan dari keturunan orang kaya, Andy Noya tumbuh menjadi pribadi yang ceria dan menikmati masa kecilnya dengan bahagia meskipun harus sering berpindah-pindah tempat dari numpang di kamar kontrakan, garasi, losmen, hingga pindah ke Jakarta yang lagi-lagi ia harus berbagi kamar dengan saudara ipar kakak perempuannya.

"Pukulanku ke dadanya menyebabkan kakakku tidak bisa bernafas dan harus dibawa ke rumah sakit...sejak kejadian itu aku bersumpah tidak akan pernah lagi memukul perenpuan dalam hidupku, sumpah yang aku pegang sampai hari ini." hal. 406


Setelah membacanya, kisah yang diceritakan seakan biasa saja namun menurut saya inspiratif. Dari anak yang gemar menulis hingga kemudian berhasil menjadi sosok yang mampu menarik orang lain untuk menjadi agen inspiratif dan berdonasi. Terlebih cerita-ceritanya yang berhubungan dengan kondisi sulit semasa kecil yang serba kekurangan (namun berlimpah bahagia dari sang Ibu), menjadikan Andy Noya menjadi pribadi yang peka akan kesulitan orang lain dan berempati.

Bagian kisah yang paling saya sukai adalah saat menyoroti perjalanan karir hingga pengunduran dirinya untuk mendirikan yayasan Kick Andy Foundation. Pembukaan kisah paling menarik dari biografi ini adalah karir jurnalistiknya yang seolah tanpa kesulitan dan sandungan yang berarti dalam memperoleh sebutan wartawan ditingkahi dengan tempat kerjanya yang keren, Tempo. Selalu ada tawaran kerja yang menggiurkan dan adanya koneksi dari tokoh-tokoh wartawan yang mumpuni alih-alih membuat dirinya jumawa, namun itu justru menjadikan Andy Noya bisa terus belajar dan mengambil teladan dari para Pemred tersebut.

Dalam memperoleh pekerjaan kesannya lancar dan mulus, bandingkan dengan kondisi sekarang yang mencari kerja saja sulitnya minta ampun bila tanpa koneksi atau orang dalam. Namun, jangan salah sangka kondisi demikian selain faktor keberuntungan, juga akibat dari kerasnya kemauan untuk maju dan mengubah nasib dalam hidup.

Membaca kisah Andy Noya, seolah ia berada di hadapan kita dan bercerita intens. Tidak membosankan, tidak menggurui, tidak dibuat-buat dan mengalir saja apa adanya. Kisahnya serasa akrab dan dekat karena setidaknya kita masih berada di frekwensi dan gelombang yang sama.

You May Also Like

0 komentar