Menanti Covid19 Berakhir #Jurnal01

by - Wednesday, April 15, 2020



Sudah sekitar 4,5 minggu Social Distancing ini dijalankan. Nyaris sudah sebulan kita berada di rumah saja. Sebenarnya tak mengapa untuk berada di rumah karena pada dasarnya saya memang orang rumahan. Namun tanpa ada selingan keluar rumah barang sebentar saja, rasanya sumpek sekali bukan?

Baca Buku

Dalam mengisi kegiatan di rumah hobi yang paling menyenangkan salah satunya adalah membaca buku. Apalagi cuaca di bulan April ini masih saja tidak jelas. Masih sering turun hujan lebat, namun kadang berubah menjadi panas terik dengan latar langit biru. Baca buku kian nikmat sembari menatap hujan ditemani teh hangat. Meskipun bukan pecinta hujan, membaca buku di tengah bunyi air hujan yang dengan ributnya jatuh menimpa talang air dari seng akan menambah kesan tersendiri.

Masalah baru yang sekarang saya hadapi adalah stok buku yang akan dibaca sudah mulai habis, alias pengen jalan-jalan ke toko buku lagi. Apa daya baru saja Pemprov DKI mengeluarkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang intinya memperpanjang Social Distancing dengan beberapa aturan yang ditambah. Parahnya lagi banyak toko ternasuk toko buku yang tidak buka di masa pandemi seperti ini.

Padahal siapa sih yang tidak ingin Covid19 ini berlalu? Semua berharap ini tidak akan lama. 


Namun sampai kapan? Sebagai pencinta buku saya kangen menyusuri rak-rak yang berisi deretan judul buku dengan sampulnya yang mengundang untuk dibeli. Saya pun kangen menyusuri lapak toko buku bekas dan memperhatikan tumpukan koleksi buku kunonya. Toko buku terbesar yang berada di mal dekat rumah saya kabarnya juga ikut tutup sampai waktu yang tidak ditentukan. Sedih juga. Seperti ada yang hilang.

lapak buku bekas di mal blok M


Setelah berselancar ke berbagai aplikasi toko buku pada akhirnya saya toh merasa bosan dan ingin kembali lagi ke toko buku yang menjual buku fisik. Dan ini sepertinya sama sekali masih belum terjawab kapan waktunya untuk membaui aroma khas dari lembaran sebuah buku baru. Entahlah.

Membaca melalui aplikasi buku sesaat terasa menyenangkan namun lama kelamaan agak jenuh juga rupanya. Mungkin dalam waktu sekitar 3 bulan mendatang barulah kita bisa menyambangi toko buku kesayangan (semoga). Tapi mudah-mudahan lebih cepat lagi. Sementara ini tumpukan buku baru yang belum saya sentuh akan saya baca pelan-pelan saja sembari menanti Covid19 berakhir.

Menjadi Sejarah

Peristiwa Covid19 ini mungkin akan menjadi sejarah bagi kita yang hidup di masa kini, pada tahun 2020, dan di abad ke-21 ini. Akan menjadi kenangan yang paling berkesan seumur hidup karena pada masa pandemi ini kita pernah merasakan yang namanya hidup selama berminggu-minggu di dalam rumah saja tanpa diperbolehkan untuk melakukan aktivitas apalagi berkerumun lebih dari 5 orang.

Sungguh suatu tantangan yang berat karena kontak sosial kita terhadap dunia luar diputus paksa oleh Covid19. Kegemaran kita untuk mengunjungi toko buku menjadi sirna ditambah ketidaktahuan sama sekali bagaimana pandemi ini akan berakhir. Serasa melewati terowongan gelap dan sinar terang  yang berada di kejauhan belum juga nampak. Bahkan ujung terowongannya saja belum ketahuan.

Namun dibalik itu kita kudu bersyukur bahwa di luar kesulitan itu, masih ada keuntungan lain yaitu bisa membaca buku-buku yang awalnya dibeli dan ditumpuk begitu saja akhirnya bisa kita baca satu per satu. Siapa sangka kehadiran Covid19  malah membuat kita getol membaca buku sampai habis.

Siapa sangka novel yang terkesan sudah lama, saat dibaca lagi masih terasa anget ceritanya, masih relevan dengan kondisi saat ini dan lebih menjiwai. Ah, gara-gara corona...


You May Also Like

0 komentar