Beradaptasi dengan Covid19#Jurnal02

by - Monday, June 01, 2020



Saat saya menulis ini, PSBB ronde ke-3 masih berlangsung. Kalau dihitung sedari tahap Social Distancing lalu, sekitar 2,5 bulan sudah saya berada di rumah saja. Gak ke mana-mana dan setia menghabiskan stok buku lain yang masih menumpuk untuk dibaca.

Kalau mau jujur, rasanya sudah sangat bosan untuk hanya berada di rumah selama ini. Namun ada kalanya ada rasa takjub sendiri karena ternyata bisa lho kita di rumah dan melakukan hobi yang kita sukai dalam waktu lama. Entah sampai kapan PSBB ini berlangsung, pikiran sudah merasa terkungkung namun secara fisik senang juga hidup di rumah saja, begitulah, terombang-ambing oleh pemikiran yang terus menerus muncul.

Kalau mau menyinggung masalah sosial jangan lupakan juga dampak ekonominya. Dan sejak Mei lalu akhirnya pemerintah kepikiran juga untuk 'mengakhiri' masa-masa membosankan ini dengan menerapkan New Normal. Salah satunya nanti akan ada pembukaan mal-mal di Jakarta. Bila mal dibuka, otomatis toko buku pun ikut dibuka. Senang? Jangan dulu, karena seperti yang sudah-sudah, biasanya kalau ada berita menyenangkan langsung akan dijegal oleh penguasa DKI.

Seperti misalnya sebelum lebaran kemarin, pemerintah membolehkan antar warga Jabodetabek untuk saling berkunjung, gak berapa lama usulan itu dijegal oleh penguasa DKI dengan melarang kegiatan itu yang dikhawatirkan makin tersebarnya wabah. Kecewa deh.

Dengar-dengar hari ini akan ada evaluasi PSBB yang akan menentukan diperpanjang atau selesai saja pembatasan sosial ini. Kita tunggu saja. 

Baca Buku Daring

Setelah menjalani hidup di rumah saja nyaris selama 3 bulan, sepertinya membeli buku menjadi urutan ke sekian. Cara paling ampuh agar bisa menekan keinginan untuk mengunjungi toko buku adalah dengan mengalihkannya dan membaca novel lawas yang memiliki kesan mendalam. Novel-novel  yang mampu membuat imajinasi saya terbang seperti Aroma Karsa atau terperangah macam Laut Bercerita.


Nah, di saat manyun tiba-tiba ada penerbit besar yang menyelenggarakan baca buku gratis yang diunduh terlebih dahulu. Pada tahap awal atau minggu pertama bisa diunduh dan langsung dibaca, minggu berikutnya mulai sulit diunduh, minggu berikutnya mulai bosan dengan buku yang mendadak tak bisa diunduh ini.



Paham sih, mana ada penjual buku memberikan bacaan cuma-cuma, apalagi buku baru yang seharusnya mendatangkan untung besar. Namun setidaknya mereka telah berbuat kebaikan menyediakan buku-buku terbaik untuk dibaca gratis (syukur-syukur dibeli) agar kita tetap di rumah saja dan tidak keluar mendatangi tempatnya. Padahal hasrat yang hakiki saat ini adalah keluar dan mengunjungi toko buku.

New Normal

Lama kelamaan hal itu menjadi terbiasa bagi saya. Membaca yang lawas atau mengunduh gratis lewat iPusnas akhirnya menjadi satu pilihan mutlak. Namun sesungguhnya saya lebih suka memegang lembaran helai kertas dan itu tidak bisa tergantikan. Apakah nanti setelah New Normal buku-buku ini berubah menjadi boleh dibaca secara daring ( dengan pengecualian tertentu) atau tetap diterbitkan secara fisik, itu juga belum tahu.

Beradaptasi adalah suatu keniscayaan di masa pandemi ini, apalagi dalam mengunjungi toko buku


 Sama dengan menerapkan protokol kesehatan yang pada awalnya sungguh bikin gagap. Harus cuci tangan, harus jaga jarak, hindari kerumunan, dll. Dalam mengunjungi toko buku pun demikian. Penjual dan pembeli harus disiplin. Bisa saja beli buku via daring tapi kurang mantap kalau tidak langsung dipegang bukunya, ya kan?

Pada saat saya ke sana, protokolnya sudah tepat. Berhubung toko non penjual bahan pokok dilarang, sementara toko buku ini tak ingin mengecewakan para pengunjung yang datang, maka dibuatlah protokol ala toko buku itu sendiri. 



Pengunjung menghampiri meja informasi, ditanya apa yang ingin dicari, petugas langsung mencatat dan meneruskan permintaan ini ke petugas toko di dalam. Kita hanya duduk saja menunggu. Tak lama buku yang kita inginkan disorongkan seraya ditanya apakah yang ini atau yang lain. Setelah cocok. Kita tinggal bayar di meja kasir yang sengaja ditempatkan tak jauh dari kita menunggu. Selesai.



Agak lama dan terkesan birokrasi sekali tapi ya mau bagaimana, kita harus ikuti saja alurnya. Sampai sejauh ini hanya itu yang bisa kita lakukan.

You May Also Like

0 komentar